[Series] Star Of Love – Part 7

Ada yang menantikan part ini??? Acung jari!!! Hehehe. Benernya belum ada niatan buat ngepost part ini. Tapi karena desakan dari berbagai pihak (halah!), akhirnya aku putuskan untuk posting part ini. Tapi, jangan cari-cari aku ya kalo ternyata part 8-nya ga diposting dengan segera. Feel lagi menghilang entah kemana. Mood juga lagi ga baik. Dan ide pun kurang bersahabat sama aku. Huhuhu.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Star of Love

Author : neys

CAST

Lee Dong Hae (Super Junior)

Cho Kyu Hyun (Super Junior)

Park Jung Soo (Super Junior)

Park Jae Mi

Cho Yeon Hae

Kim Chae Sun


_Lee Dong Hae PoV_

Akhirnya acara pertunangan pun selesai. Tapi aku malah berjalan ke arah apartment Kyu Hyun. Ya, aku memang ingin menginap di sana.

Aku mengetuk pintu apartment Kyu. Tidak ada jawaban. Aku mencoba membukanya. Tidak dikunci. Saat aku membuka pintu aku melihatnya sedang sibuk di dapur.

“Kau sedang apa, Kyu?” ia terlonjak mendengar pertanyaanku. Sepertinya ia tidak menyadari kedatanganku sebelumnya.

“Hyung?”

“Ne, aku menginap di sini ya? Kamarku dulu masih bisa aku gunakan kan? Aku tidur dulu ya?”

“Tapi hyung…”

Ucapannya terhenti saat aku membuka pintu kamarku dulu.

“JAE MI???”

Aku berteriak memanggil namanya saat aku melihat Jae Mi sedang terbaring di atas tempat tidur dan wajahnya sangat pucat. Aku berjalan cepat ke arahnya. Memegang keningnya. Panas. Ada apa dengannya?

Kyu Hyun masuk sambil membawa baskom berisi es batu. Aku mengambilnya dari tangannya. “Biar aku saja. Aku juga yang akan menjaganya malam ini.”

“Hyung, kau…”

“Ya, aku akan menjaganya di sini.”

Kyu Hyun pun keluar lalu menuju kamarnya.

Aku mengompres keningnya yang panas. Ada apa denganmu Jae Mi? Kenapa kau sampai sakit begini? Mianhae. Aku benar-benar tidak becus menjagamu.

Aku terus mengompres sepanjang malam dan tanpa aku sadari aku tertidur. Saat aku bangun, ia masih belum bangun. Aku meregangkan ototku karena semalaman aku tertidur di kursi di sebelah tempat tidur.

Aku memegang keningnya. Panasnya sudah turun. Aku keluar kamar lalu bergegas membuatkan Jae Mi bubur. Tak lama kemudian pintu kamar Kyu terbuka.

“Kau sedang apa, hyung?”

“Membuat bubur.”

“Oh. Ya sudah kalau begitu aku akan membuatkan susu untuknya.”

“Bisa kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Jae Mi?”

“Mollayo. Kemarin dia tiba-tiba saja pingsan.”

“Apa dia tidak mempedulikan kesehatannya belakangan ini?”

“Bagaimana bisa?”

“Kyu, aku mohon jagalah dia. Aku tidak ingin melihatnya sakit.”

“Pasti. Aku akan menjaganya, hyung.”

“Oppa!!! Apa yang terjadi dengan Jae Mi???” aku mendengar suara Yeon Hae.

“Hae oppa? Kau di sini juga?” aku hanya menjawab dengan anggukan.

“Annyeong, Hae. Annyeong, Kyu.”

“Ne, Soo. Aku masuk dulu. Aku mau memberikan bubur ini pada Jae Mi.”

Aku berjalan ke kamarku tapi aku masih bisa mendengar Yeon sedang bertanya-tanya pada Kyu tentang keberadaanku di sini.

Saat aku masuk Jae Mi sudah bangun. Ia sedang berdiri di depan jendela yang terbuka.

“Jangan berdiri di sana. Dingin. Aku tidak mau kau sakit lagi.” Ia langsung menoleh padaku. Ia tampak kaget melihatku berdiri di depannya.

Aku menarik tangannya untuk kembali duduk di tempat tidur.

“Sekarang kau makan dulu ya? Aku akan menyuapimu.”

Dia menggeleng. “Aku tidak mau makan.”

“Ayolah, Jae. Kau harus makan.”

“Aku tidak mau makan, Hae!” ia mengucapkannya dengan penekanan pada setiap kata-katanya.

“Aku mohon jangan pernah memanggilku Hae. Itu terasa menyakitkan.”

“Kalau begitu jangan memaksaku untuk makan.”

“Tapi kau memang harus makan. Kau harus sembuh, Jae.”

“Panggilkan Kyu oppa.”

“Untuk apa?”

“Panggilkan dia, Hae.”

Aku keluar dan memanggil Kyu agar dia masuk ke dalam.

“Dia sudah ada di dalam. Sekarang sudah mau makan kan?”

“Berikan bubur itu pada Kyu. Biar dia saja yang menyuapiku.”

“Jae???”

“Berikan, Hae.”

Aku memberikan mangkuk berisi bubur ini kepada Kyu. Lantas aku duduk di kursi di seberang tempat tidurnya. Aku melihat Kyu menyuapi Jae Mi. Hatiku rasanya pedih sekali melihatnya. Seperti inikah perasaannya saat melihatku bersama Chae Sun? Ah, tidak! Pasti lebih sakit karena ia melihatku bertunangan dengan gadis lain. Pasti sangat menyakitkan.

Kyu Hyun sudah selesai menyuapi Jae Mi lalu memberikan segelas susu yang tadi dibuatnya kepada Jae Mi. Jae Mi pun meminumnya sampai habis. Aku senang melihatnya makan dan minum seperti ini. Cepatlah sembuh, jagiya.

Kyu Hyun keluar kamar untuk mencuci piring dan gelas tersebut. Aku kembali menghampiri Jae Mi. Aku duduk di sampingnya lalu menggenggam jemarinya.

“No gwaenchani?”

“Ne. Gwaenchana.” Ucapnya sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Jae ah~ Aku mohon jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kau sakit seperti ini.”

“Arasseo.”

“Jae ah~ ada apa denganmu? Kenapa kau secuek ini padaku? Kau marah padaku?”

“Aniyo. Kau tidak usah khawatir. Ini akan membantumu untuk melupakanku.”

“Aku tidak ingin melupakanmu Jae.”

“Tidak ingin tapi harus, oppa.”

“Jae ah~ Kalaupun harus kau tidak perlu bersikap seperti ini. Ini akan semakin menyakitiku dan aku tahu ini juga menyakitimu.”

“Memang sudah sakit dari awal kok.”

“Jae ah~”

“Mianhae. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar aku dapat melupakanmu.”

“Kalau kau tidak tahu jangan kau berusaha untuk melakukan itu.”

Dia tersenyum padaku.

“Pulanglah, oppa. Dia akan cemas kalau tahu kau tidak pulang ke apartment-mu semalaman.”

“Kenapa kau harus selalu memikirkan perasaannya?”

“Karena aku dan dia sama-sama wanita. Jadi aku bisa mengerti perasaannya.”

“Dan apa kau juga mengerti perasaanku.”

“Aku tahu. Sudah, pulanglah.”

“Ne. Aku mohon jangan sakit lagi karena aku.”

“Tidak lagi, oppa.”

_PoV end_


_Park Jae Mi PoV_


I always needed time on my own
I never thought I’d need you there when I cry
And the days feel like years when I’m alone
And the bed where you lie is made up on your side

When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now

When you’re gone
The pieces of my heart are missing you
When you’re gone
The face I came to know is missing too
When you’re gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you

I’ve never felt this way before
Everything that I do reminds me of you
And the clothes you left, they lie on the floor
And they smell just like you, I love the things that you do

When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now

We were made for each other
Out here forever
I know we were, yeah
All I ever wanted was for you to know
Everything I’d do, I’d give my heart and soul
I can hardly breathe I need to feel you here with me

(Avril Lavigne – When you’re gone)

 

Kenapa setiap aku melihat punggungnya menjauh dariku akan terasa sakit?

Beberapa saat setelah oppa keluar, Kyu oppa masuk bersama dengan Yeon Hae dan seorang pria yang tidak kukenal. Siapa dia? Park Jung Soo kah?

“Jae Mi ah~!!! Kau kenapa? Aku mencemaskanmu!!!”

“Aku tidak apa-apa, Yeon. Kau bersama dengan siapa?”

“Ah ya, kenalkan. Dia Park Jung Soo.”

“Park Jung Soo imnida.” Ujarnya sambil mengulurkan tangan padaku.

Aku menerima jabatannya. “Park Jae Mi imnida.”

“Banggawoyo, Jae Mi ah~”

“Ne. Kau sudah jadian dengannya, Yeon?” tanyaku enteng dan aku mendapat balasan pelototan mata dari Yeon.

“Ya! Pertanyaan macam it, Jae?”

“Aku kan hanya bertanya, Yeon. Hahaha.”

“Aniyo. Aku dan Yeon Hae belum jadian.” Jung Soo buka suara.

“Hahaha. Arasseo.”

“Kau mau aku antar pulang?”

“Tidak usah, oppa. Aku pulang dengan Yeon saja.”

“Yeon pasti pulang diantar Jung Soo. Lebih baik kau kuantar.”

“Oh iya. Kau benar. Aku akan mengganggu mereka ya?”

“Ya! Jae Mi! Oppa! Apa-apaan kalian?”

“Sudah sana pergilah dengan Jung Soo. Kalian pasti mau jalan-jalan kan?”

“Jae Mi ah~ kau memang sahabat yang sangat pengertian.” Ucap Yeon Hae sambil memelukku.

“Ya! Sudah sana!”

Akhirnya  mereka berdua menghilang dari pandanganku. Mereka sudah dekat rupanya. Senang sekali melihat Yeon sekarang lebih bahagia.

“Oppa, harusnya kau juga mencari seorang kekasih. Selama ini sepertinya kau tidak pernah menceritakan padaku bahwa kau sedang menyukai seseorang.”

“Jeongmalyo? Aku sedang menyukai seseorang kok.”

“Nuguya, oppa?”

“Rahasia! Sudah ayo aku antar.”

Kyu oppa mengantarkan aku ke apartmentku. Salah! Apartment-ku dengan Yeon Hae. Yeon memang lebih memilih untuk tinggal denganku dibanding bersama oppa-nya. Takut aku kesepian katanya.

“Oppa, masuklah dulu. Aku ingin jalan-jalan. Kau mau kan menungguku bersiap-siap?”

“Baiklah aku tunggu. Jangan lama-lama!”

“Ara…”

>>>

“Jadi siapa gadis yang sedang kau incar, oppa?” tanyaku saat kami sudah berada di kedai ice cream.

“Kenapa kita membahas hal ini?”

“Ani, hanya ingin meyakinkan diri bahwa gadis yang kau cintai itu tepat.”

“Sudahlah, aku juga tidak ada niatan untuk mengejarnya kok.”

“Mwoya? Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tidak akan bisa meendapatkannya kalau kau tidak segera mengejarnya. Apa kau mau keduluan yang lain?”

“Tidak akan.”

“Biar kutebak seperti apa gadis yang kau sukai itu. Pasti dia sangat feminine dan calm ya?”

“Kau salah. Dia tidak feminine tapi juga tidak tomboy. Biasa saja. dan calm? Kau jangan bercanda. Dia benar-benar berisik.”

“Jeongmalyo? Aku salah ya? kalau begitu pasti dia tinggi dan memiliki paras menawan.”

“Hahaha. Kau lucu sekali Jae Mi ah~ dia tidak tinggi. Sama sekali tidak bisa dibilang tinggi. Dia memang menawan, tapi pendek.”

“Lalu? Seperti apa dia? Susah sekali menebaknya.”

“Dia gadis yang kuat. Tapi juga rapuh. Dia selalu berusaha untuk tidak membuat orang yang ia sayangi bersedih.”

“Kenapa aku merasa, semakin aku mendengar tentangnya aku merasa dia sangat mirip denganku ya?”

“Ya! Jangan terlalu percaya diri!” ucap oppa sambil menjitak kepalaku.

“Aduh!”

_PoV end_


_Cho Yeon Hae PoV_

Aku sedang berada di sebuah pameran lukisan bersama dengan Jung Soo. Entahlah kenapa kami bisa sampai di tempat ini. Sebenarnya aku dan Jung Soo sama-sama tidak begitu tertarik dengan lukisan. Tapi tadi kami sangat bingung hendak kemana sampai akhirnya melihat ada sebuah pameran lukisan di sini. Hubunganku akhir-akhir ini dengannya cukup baik. Kami sering pergi keluar berdua. Meski hanya untuk ngobrol atau jalan-jalan biasa. Aku sangat senang, ternyata dia tidak membenciku. Dan soal gadis waktu itu, ternyata dia adalah saudara perempuan Jung Soo. Memalukan sekali aku sudah berpikir lebih dari itu.

“Oppa. Kau menyukai lukisan-lukisan ini?”

“Mollayo. Aku tidak terlalu mengerti dengan lukisan-lukisan ini. Kau sendiri?”

“Na ddo. Bagaimana kalau kita keluar saja? Terlalu lama disini hanya akan membuat kita nampak bodoh.”

“Kau benar. Kajja!” dia menggandeng tanganku. Jantungku rasanya berdetak lebih cepat. Bolehkah aku berharap lebih dari ini untuk hubungan kami berdua kedepannya?

Jung Soo melajukan mobilnya. Aku sendiri tidak tahu dia akan mengajakku kemana. Aku hanya diam saja. Ternyata dia menghentikan mobilnya di taman.

“Aku rasa tempat ini adalah tempat yang paling aman.”

“Kau benar, oppa.”

“Oh ya, bukankah kau akan berkuliah di kampus yang sama denganku?” saat ini kami duduk bersebelahan di ayunan.

“Ne.”

“Kau mau berangkat denganku setiap pagi? Aku akan menjemputmu.”

“Mwo? Lalu bagaimana dengan Jae Mi?”

“Kan ada Kyu Hyun.”

“Maksudmu? Oppa-ku yang akan menemani Jae Mi ke kampus?”

“Geurae.”

“Kau ini sedang berusaha mendekatiku atau mendekatkan oppa-ku pada Jae Mi sih?”

“Keduanya.”

“Mwo???”

“Waeyo? Ada yang salah dengan ucapanku?”

“Aish!”

“Apa kau tidak merasakan bahwa oppa-mu menyukai Jae Mi?”

“Mwoya? Oppa-ku menyayangi Jae Mi seperti adiknya sendiri.”

“Kau salah. Oppa-mu menyanyangi Jae Mi bukan seperti oppa menyayangi dongsaengnya. Tapi sebagai namja kepada yeoja.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku dan Kyu kan sama-sama pria. Kau lupa kalau aku ini seorang lelaki?” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Ya!” aku menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Hahaha. Aku baru tahu ternyata kau pemalu juga ya?”

“Dan ternyata kau tidak sedingin yang aku kira.”

“Itu artinya aku sudah mulai percaya padamu.”

”Ne?”

“Aku hanya akan hangat pada orang-orang yang aku percaya. Pada orang-orang yang aku sayang dan sayang padaku. Kau menyayangiku kan?”

“Ya! Pertanyaan macam apa itu?”

“Hahaha. Tidak kau jawab pun aku sudah tahu apa jawabanmu, Yeon.”

“Dan itu artinya kau menyayangiku.”

“Ne?”

“Kau bilang kau akan hangat pada orang yang kau sayangi bukan?”

“Hahaha. Kau benar!”

>>>

Terserah jika ada yang menganggapku gila. Yang penting aku merasa sangat bahagia. Daritadi aku senyum-senyum sendiri. Akhirnya aku benar-benar dekat dengan Park Jung Soo, namja yang aku sukai. Aku tidak menyangka bahwa dia menawariku untuk berangkat bersama-sama ke kampus.

“Ya! Apa kau sudah gila senyum-senyum sendiri?”

“Oppa?”

“Kau perlu aku bawa ke rumah sakit?” ucap oppa sambil merebahkan dirinya di sofa, disampingku. Sementara Jae Mi memberi isyarat pada kami bahwa ia ingin langsung masuk ke kamar.

“Aish! Aku baik-baik saja. Hanya terlalu bahagia.”

“Pasti karena Jung Soo hyung. Iya kan?”

“Geurae.”

“Oppa, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa benar kau menyukai Jae Mi?”

“Ne. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Tentu saja aku menyukainya. Menyayanginya.”

“Bukan yang seperti itu. Apa kau menyukai Jae Mi seperti seorang namja menyukai seorang yeoja?”

“Ne???”

“Jangan coba-coba untuk membohongiku, oppa.”

“Geurae. Tapi sekarang aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk memintanya menjadi kekasihku. Aku cukup tenang hanya dengan menjaganya.”

“Oppa… Aku tidak menyangka, ternyata selama ini kau menyukai Jae Mi?”

“Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku menyukainya. Salah, mencintainya. Tapi aku baru menyadarinya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih dan menangis. Aku hanya ingin melihat senyum di wajahnya. Hanya ingin melihatnya bahagia. Itu saja.”

“Oppa…” aku menghambur ke pelukan oppa-ku ini.

Aku tidak menyangka, ternyata oppa-ku sangat besar hati. Bukankah seorang namja biasanya menginginkan yeoja yang ia cintai agar menjadi miliknya? Kenapa oppa tidak? Oppa, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.

_PoV end_


_Park Jung Soo PoV_

Aku baru saja mengantarkan Yeon Hae ke apartment-nya. Aku akui, ternyata dia gadis yang sangat menyenangkan. Sedikit tertutup tapi memiliki kepribadian yang menarik. Dan aku nyaman berada di sisinya. Bahkan tidak jarang ia membuatku salah tingkah. Aish! Ada apa dengan diriku?

Aku mengeluarkan handphone-ku. Melihat foto kami berdua satu-persatu. Tadi kami sempat foto-foto bersama saat jalan-jalan. Hal yang sangat jarang kulakukan. Aku tersenyum melihat berbagai ekspresinya di foto. Aish! Gadis ini membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Sekarang hidupku sudah benar-benar berubah. Tidak ada lagi Jung Soo yang pendiam dan dingin. Tidak ada lagi kesepian. Kini aku memiliki banyak teman. Ini semua berkat kau, Cho Yeon Hae. Gomawo telah memberikan berbagai warna dalam hidupku.

Aku putuskan untuk meneleponnya. Jujur, aku merindukannya. Mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi aku benar-benar ingin mendengarkan suaranya.

“Yeoboseyo.”

“Yeoboseyo, Yeon.”

“Ne, oppa. Waeyo?”

“Aniyo. Kau sedang apa? Bagaimana kabar temanmu itu?”

“Aku sedang nonton TV. Temanku? Jae Mi? Mollayo, sepertinya ia masih butuh waktu untuk menyendiri. Aku tidak ingin mengganggunya.”

“Aku harap temanmu cepat kembali.”

“Memang dia darimana? Hahaha.”

“Ya! Kau ini!”

“Ara… Ara… Oh ya, ternyata benar seperti dugaanmu. Oppa-ku memang menyukai Jae Mi.”

“Jinjja? Lalu, bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak punya pendapat. Asalkan oppa dan Jae Mi bahagia, apa pun itu aku setuju.”

“Hm… Oh ya, kapan kuliahmu akan dimulai?”

“Minggu depan. Kau jadi berangkat denganku?”

“Kalau kau mau sih…”

“Hahaha. Iya iya, aku mau.”

“Jadi tidak sabar untuk minggu depan.”

“Mwo? Jangan coba-coba merayuku, oppa. Hahaha.”

“Hey! Aku tidak sedang merayumu tahu! Aku kan hanya bilang aku tidak sabar untuk minggu depan.”

“Arasseo. Sudah dulu ya? Aku mau melihat Jae Mi dulu. Aku tidak mau dia melakukan sesuatu yang buruk jika terlalu lama sendirian di dalam kamar. Annyeonghi jumuseyo.”

“Ne. Jalja.”

Kalau sekarang ada seseorang di sampingku. Ia pasti akan segera membawaku ke rumah sakit. Ya, dia pasti akan mengira bahwa aku adalah pasien yang lari dari rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak? Daritadi aku hanya senyum-senyum lalu memandang handphone-ku. Begitu berulang-ulang. Ya! Yeon Hae ah~ apa yang sudah kau lakukan padaku???

_PoV end_


_Kim Chae Sun PoV_

Hari ini pikiranku kembali dipenuhi oleh Dong Hae. Kemana dia usai acara pertunangan kemarin? Kenapa langsung menghilang? Handphone-nya juga tidak aktif. Padahal aku sedang menantikan penjelasan darinya tentang apa yang sebenarnya terjadi kemarin padanya.

Sekarang aku sedang menunggu di depan apartmen-nya. Tadi aku sudah memencet bel apartment-nya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Itu artinya dia tidak sedang berada di dalam. Sudah satu jam aku menunggunya, tapi ia tidak juga nampak.

Satu setengah jam berlalu, aku pun melihatnya berjalan kemari.

“Chae Sun?Apa yang sedang kau lakukan di sini?” ucapnya saat ia sudah berada di hadapanku.

“Aku? Aku sedang menunggu penjelasanmu, oppa.”

“Mwo? Penjelasan apa?”

“Kemarin, apa yang membuatmu keluar gedung sesaat setelah kau menciumku? Apa karena wanita itu? Wanita yang tiba-tiba keluar usai melihat kau menciumku? Siapa memangnya dia? Mau merebutmu dariku?”

“Ya! Kau? Jangan berbicara sembarangan!”

“Memangnya kenapa?”

“Karena… Dia…”

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s