[Series] Star Of Love – Part 6

Horray!!! Akhirnya!!! Ini part pertama yg berhasil aku buat di rumah, bukan di kantor kayak biasanya. Hahaha. Ga tau, kayaknya part ini masih sedih deh. Dan sepertinya aku menikmati moment-moment kayak gini. *author mellow*

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Star of Love

Author : neys

CAST

Lee Dong Hae (Super Junior)

Choi Si Won (Super Junior)

Cho Kyu Hyun (Super Junior)

Park Jung Soo (Super Junior)

Park Jae Mi

Cho Yeon Hae

Yoon Ji Hyeon

Kim Chae Sun


_Park Jae Mi PoV_

Apakah aku baru saja berpisah dengan Dong Hae oppa? Ini sulit untuk bisa aku percaya. 5 tahun aku menjadi kekasihnya, namun kini aku bukan siapa-siapa.

Aku terus berjalan menyusuri jalanan kota Tokyo. Tanpa arah. Aku terus menangis sambil berjalan. Mungkin aku sudah seperti orang gila. Saat aku berjalan di sebuah jembatan aku memutuskan untuk berhenti dan berteriak untuk meluapkan perasaanku.

“YAAA!!! LEE DONG HAE!!! KENAPA KAU HARUS MENINGGALKAN AKU???”

Aku terdiam. Cukup lama dan aku kembali berteriak.

“LEE DONG HAE!!! NOMU NOMU SARANGHAE!!! KAU HARUS BERBAHAGIA MESKIPUN AKU TAK DI SAMPINGMU!!!”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku terduduk di jembatan dan kembali menangis.

“Jae Mi ah~ kau kenapa?” Aku mendengar seseorang bertanya padaku. Aku tahu ini suara siapa. Aku manatapnya.

“Oppa!!!” aku langsung memeluk pria di depanku ini dan menangis dalam pelukannya.

“Jae ah~ Museun iriya?”

“Oppa! Aku dan Hae oppa sudah berpisah.”

“Mwo??? Kau dan hyung?”

Aku melepas pelukanku lalu mengangguk.

“Jae ah~ Mian, seharusnya aku memberitahumu saja dari awal.”

Aku menggeleng. “Aniyo, oppa. Gomawo selama ini selalu ada di saat aku membutuhkanmu. Mungkin memang harus seperti ini jalannya. Aku sedih tapi ini kenyataan. Tidak peduli kapan, jika memang harus terjadi ya pasti terjadi.”

“Chon maneyo, Jae ah~” ucap Kyu oppa sambil mengacak rambutku.

“Ya! Jangan mengacak-acak rambutku!”

“Hahaha… Pulang yuk! Aku akan mengantarmu.”

“Kajja!”

>>>

Sudah satu minggu aku dan oppa berpisah. Keadaanku masih sama setiap hari. Memikirkannya dan menangis. Apalagi setelah aku tahu bahwa 3 hari lagi pesta pertunangan mereka akan digelar. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Aku ingin bangkit tapi aku tak sanggup untuk tidak menangis setiap aku mengingat bahwa orang yang akan menjadi pendamping oppa bukan aku tetapi gadis lain. Aku belum mampu.

Hari ini oppa akan datang ke apartment-ku. Seminggu ini kami tidak bertemu. Bukannya oppa tidak berusaha untuk bertemu denganku. Tapi aku yang menghindar. Aku belum sanggup melihat wajahnya lagi.

Aku sedang duduk di balkon apartment-ku. Aku mendengar derap langkah yang mendekat ke arahku. Aku tahu itu pasti oppa. Aku memang sengaja tidak mengunci pintu dan menyuruhnya langsung masuk saat datang ke apartment-ku. Dan saat ia sudah benar-benar dekat aku menoleh padanya lalu tersenyum.

“Annyeong Jae ah~”

“Annyeong oppa.”

Ia langsung mengambil tempat di sebelahku. Menatapku lekat-lekat. Tapi aku tidak berani balas menatapnya. Aku malah tetap memandang ke depan. Aku tidak mau menangis di depannya lagi. Ia berhak mendapatkan kebahagiaannya tanpa merasa bersalah terhadapku.

“Jae ah~ bogoshipoyo…”

“Na ddo, oppa.”

Ia meraih jemariku tapi aku langsung menariknya. “Jangan lakukan apapun padaku yang seharusnya kau lakukan pada kekasihmu, oppa. Aku sudah bukan kekasihmu. Aku tidak mau ada yang tersakiti lagi.”

“Jae ah~ aku harus bagaimana? Aku masih mencintaimu.”

Aku menggeleng. “Berhentilah mencintaiku karena akupun akan berhenti mencintaimu.”

“Jae ah~ Mianhae… Aku memang bodoh! Aku memang jahat! Harusnya aku bisa mempertahankan hubungan kita.”

“Bisakah? Sudahlah, oppa. Kenyataannya tidak ada yang bisa kita pertahankan.”

“Kenapa? Kita saling mencintai. Kenapa tidak bisa bersama?”

“Tanyakan itu pada dirimu sendiri, oppa. Kau yang paling tahu jawabannya.”

Ia menangis. Aku mohon jangan menangis oppa. Kalau kau menangis aku pasti tidak akan sanggup lagi menahan air mata yang sudah mau jatuh daritadi. Tidak akan mampu lagi. Setetes, dua tetes, air mataku ikut jatuh. Kami menangis dalam diam. Aku dan dia tidak berkata-kata lagi. Cukup lama sampai akhirnya oppa mengatakan sesuatu padaku.

“Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali? Memelukmu dengan seluruh cintaku padamu.”

Aku mengangguk pelan dan ia pun langsung memelukku erat. Ia memelukku seolah tidak ingin melepasnya lagi. Aku bisa merasakan kepedihannya lewat pelukan ini. Oppa, uljimara. Tersenyumlah. Aku lebih suka melihat senyummu. Tak lama ia melepaskan pelukannya.

“Kau harus menjaga dirimu baik-baik Jae~ Temukan seseorang untuk menggantikan posisiku.”

“Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, oppa. Kalau pun nanti aku menemukan seseorang yang dapat membuatku jatuh cinta, kau akan tetap pada tempatmu. Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing. Ijinkan aku untuk mengatakan ini untuk yang terakhir kali padamu, oppa. Saranghae, oppa.”

“Na ddo saranghae, Jae.”

“Kau pulanglah. Aku senang kita dapat berpisah secara baik-baik. Setidaknya aku masih bisa menjadi adikmu.”

“Kau tenang saja. Kau pasti akan menjadi adik kesayanganku.”

“Hahaha. Sudah sana, pulanglah.”

“Ne, annyonghi gyeseyo.”

“Annyeonghi gaseyo.” Ucapku sambil tersenyum padanya.

Ia berbalik dan berjalan keluar. Aku tetap memandangnya. Menatap punggungnya yang semakin menjauh. Punggung dari orang yang sangat aku cintai juga yang telah menghancurkan hatiku. Sanggupkah aku bertahan???

Don’t leave me in all this pain
Don’t leave me out in the rain
Come back and bring back my smile
Come and take these tears away
I need your arms to hold me now
The night are so unkind
Bring back those nights when I held you beside me

Un-break my heart
Say you’ll love me again
Undo this hurt you caused
When you walked out the door
And walked out of my life
Un-cry these tears
I cried so many nights
Un-break my heart
My heart

Take back that sad word good bye
Bring back the joy to my life
Don’t leave me here with these tears
Come and kiss that pain away
I can’t forget the day you left
Time is so unkind
And life is so cruel without you here beside me

Don’t leave me in all this pain
Don’t leave me out in the rain
Bring back the nights when I held you beside me

Un-break my heart
Come back and say you love me
Un-break my heart
Sweet darling
Without you I just can’t go on
Can’t go on….

(Toni Braxton – Un-break My Heart)

 

_PoV end_


_Kim Chae Sun PoV_

*Kim Chae Sun apartment*

Lusa adalah hari pertunanganku. Tapi kenapa aku malah merasa sedih? Aku tahu, Dong Hae oppa belum bisa mencintaiku. Dan beberapa hari belakangan aku merasakan itu lebih jelas dari hari-hari sebelumnya. Aku juga merasa ia berubah. Entah apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Kau sudah siap?” pertanyaan oppa membuyarkan lamunanku. Lalu aku pun mengangguk dan bergegas keluar mengikutinya.

“Kau mau aku antar kemana hari ini?”

“Aku ingin kita ke kantor appa-mu.”

“Untuk apa?”

“Hanya ingin ngobrol saja.”

“Baiklah kita ke sana sekarang.”

Kami berdua sama-sama diam. Ia tidak mengucapkan apa-apa lagi. Aku melihat ada kepedihan di wajahnya. Apa pertunangan ini sangat menyakitinya?

Haruskah aku meminta appa-ku untuk membatalkannya, karena kenyataannya oppa belum juga bisa mencintaiku. Sedikitpun tidak. Tapi aku terlanjur mencintainya. Lagipula, dia baru saja berjanji akan belajar mencintaiku bukan? Sabar. Aku harus sabar.

>>>

“Ahjussi!!! Annyeong haseyo!”

“Chae Sun ah~ duduklah.”

“Ne, kamsahamnida.”

“Ada apa kalian mencariku?”

“Aniyo, ahjussi. Aku hanya ingin berbincang-bincang saja.”

“Oh begitu. Bagaimana, apa kalian sudah siap untuk pertunangan kalian? Semua sudah beres kan?”

“Kau tenang saja, ahjussi. Semua sudah siap.”

“Hae, kenapa kau diam saja?”

Aku menoleh ke arah Hae oppa. Ia sedang memainkan handphone-nya.

“Aku tidak tahu mau berkata apa. Jadi ya aku diam saja.”

“Ya! Mana boleh begitu? Ini kan pertunanganmu. Lebih antusiaslah sedikit.”

“Bukankah semua sudah beres? Apa lagi yang perlu dibahas? Hanya tinggal tunggu waktu bukan?”

“Ya! Kau…”

“Sudahlah, ahjussi. Mungkin dia lelah. Akhir-akhir ini kan kami sibuk mengurusi acara pertunangan kita.”

“Jeongmalyo? Ia selalu menemanimu mengurus semua?”

“Ne.”

Aku berbohong. Oppa sangat jarang menemaniku. Hanya sesekali ia menemaniku. Itupun juga jika aku memaksanya. Aku akan bertahan. Sebentar lagi dia pasti akan mencintaiku. Sabar, Chae Sun.

_PoV end_


_Choi Si Won PoV_

Sepertinya aku sudah mulai mencintai kekasihku. Ya, Yoon ji Hyeon benar-benar berhasil membalut lukaku. Dan kini, rasa sakit itu sudah tidak ada lagi. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya.

Yeon Hae calling…

“Yeoboseyo, Yeon ah~”

“Oppa!!! Chukaeyo!!! Aku sudah mendengar tentangmu dari Jae Mi.”

“Hahaha. Gomawo, Yeon ah~”

“Chon maneyo. Oh ya, lusa datanglah ke Jepang. Hae oppa akan bertunangan. Kau harus datang!”

“Jeongmalyo? Dong Hae dan Jae Mi akan bertunangan? Kenapa Jae Mi tidak memberitahuku waktu dia di Busan?”

“Aniyo. Calon tunangan oppa bukan Jae Mi.”

“Mwo??? Bagaimana mungkin?”

“Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan. Tagihan pulsa bisa membengkak jika aku menceritakan padamu sekarang. Oh ya, ajak kekasihmu itu. Aku ingin melihatnya.”

“Bagaimana keadaan Jae Mi?”

“Gwaenchanna. Kau tenang saja. Pokoknya harus datang ya?”

“Ne.”

“Bye.”

“Bye.”

Lusa Dong Hae akan bertunangan? Bukan dengan Jae Mi? Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu bagaimana dengan perasaan Jae Mi? Bukankah ia pasti akan sangat terluka? Aish! Ya! Dong Hae babo ya!

“Siapa yang menelepon, Won?”

“Yeon. Dia bilang Dong Hae akan bertunangan.”

“Hae sahabatmu itu? Bukankah itu berita bagus? Kenapa malah sebal?”

“Karena calon tunangannya bukan Jae Mi, kekasihnya. Melainkan orang lain.”

“Kau memikirkan perasaan Jae Mi?”

“Hyeon ah~ aku hanya…”

“Aku mengerti, Won ah~. Aku juga memikirkan perasaan Jae Mi kok. Pasti dia sangat sedih. Apalagi sekarang ia tinggal di Jepang. Akan lebih menyakitkan bukan jika ia sering bertemu dengan Hae dan tunangannya itu?”

“Kau benar. Oh ya, Yeon menyuruhku untuk mengajakmu. Kau mau menemaniku kan?”

“Pasti.”

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Akhirnya hari ini tiba. Aku akan bertunangan dengan Chae Sun. Dan, Jae Mi akan hadir. Padahal aku sudah meminta bantuan Yeon untuk memintanya tidak hadir. Tapi Jae Mi bersikukuh untuk hadir. Tapi sampai sekarang aku belum melihatnya.

Aku berdiri di tengah ruangan bersama dengan Chae Sun. Ya, sekarang saatnya aku memakaikan cincin pertunangan di jari manis Chae Sun.

Aku menyematkan cincin pertunangan ini di jari manisnya perlahan. Lebih tepatnya tidak rela. Aku menoleh saat mendengar beberapa derap langkah.

Jae Mi datang. Sebentar bukankah di sebelahnya itu Choi Si Won? Dia datang? Pasti Yeon Hae!

Baguslah, setidaknya ada Choi Si Won. Pasti dia akan menjaga Jae Mi. Tapi tunggu! Si Won sedang menggandeng wanita di sebelahnya. Si Won sudah memiliki kekasih? Aish! Semua memang salahku. Kalau aku melepasnya dari dulu, pasti wanita yang sekarang digandengnya adalah Jae Mi.

Ekspresi Jae Mi datar. Tidak murung tapi dia juga tidak tersenyum.

“Oppa?” suara Chae Sun menyadarkanku.

Sekarang ia menyematkan cincin itu di jari manisku. Usai itu kami kembali menghadap ke arah undangan. Dan sekarang aku diharuskan untuk memberinya sebuah ciuman. Aku memilih mencium pipinya. Tapi saat aku sedang menciumnya aku bisa merasakan seseorang berlari keluar. Dan aku yakin itu pasti Jae Mi.

Benar. Saat aku kembali menatap ke tempatnya tadi, ia sudah tidak berada di sana. Tak lama kemudian Kyu Hyun menyusulnya.

Sesaat setelah itu para undangan mulai membaur dan menikmati makanan. Aku berlari keluar.

Betapa kagetnya aku, saat aku di luar kau melihat Kyu Hyun mencium kening Jae Mi lalu memeluknya. Jujur, aku ingin sekali menarik Kyu dan memukulnya. Tapi itu sudah tidak mungkin. Aku sudah tidak berhak atas diri Jae Mi. Mungkin Kyu Hyun bisa menjaga Jae Mi. Ya, Kyu Hyun pasti bisa.

Aku pun kembali masuk ke dalam dengan perasaan yang sangat hancur.

I must go, it pains me to leave you
Can you see all the tears in my heart?
I will try my best somehow to be strong
Even though I know I must go

Please don’t cry, forgive me for the pain
That I’ve caused, my whole world is breaking
My heart hurts, I willed myself to take a step
I had no choice but to leave you standing there

If you ever love again
I just don’t know what to do
It hurts even when I take a breath
But if it means that you can somehow forget
The pain and find happiness again
Then I know it’s better for me to let go

So afraid of living without love
All I see around are your shadows
I guess I must face this overwhelming pain
Knowing that I still long for you night and day

Just once… Just once more
Can’t we… Can’t we try?
Crying out like a fool to myself

If you ever love again
I must face reality
But I’m hurting so much, I can’t see
But if it means you have a reason to smile
I am willing to bear all the pain
For your sake, I will do anything for you
I love you

(F.T Island – Saranghajimayo / Don’t Love)


_PoV end_


_Park Jae Mi PoV_

Aku melihat oppa mencium pipi gadis itu. Aku tidak tahan lagi. Aku berlari keluar sambil menangis. Tak lama kemudian Kyu oppa menyusulku.

“No gwaenchani?”

Aku berbalik dan menatapnya. “Tidak mungkin aku sedang dalam keadaan baik-baik saja kan, oppa?”

“Jae ah~ adakah yang bisa kulakukan untukmu? Uljimara…”

“Oppa…”

“Jae ah~ kau pasti kuat menghadapi ini semua. Hwaiting!”

“Gomawo, oppa.” Aku tersenyum padanya.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara derap kaki mendekat ke arah di mana aku dan Kyu oppa berada. Aku yakin pasti Hae oppa. Aku tidak mungkin membiarkannya melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku tak mau dia kembali merasa bersalah dan kembali bimbang. Aku punya ide!

“Oppa, aku butuh bantuanmu. Kau mau kan membantuku?”

“Membantu apa?”

“Cium keningku.”

“Mwo?”

“Cepat oppa. Aku mohon. Hae oppa akan segera tiba di sini. Nanti saja aku jelaskan.”

Kyu oppa mendekatkan dirinya padaku. Memegang kedua pundakku lalu mencium keningku. Aku masih bisa melihat Hae oppa baru saja sampai saat Kyu oppa mencium keningku. Aku tidak bisa mendefinisikan ekspresi wajahnya. Kaget, lega dan sedih seolah bercampur menjadi satu.

“Sekarang peluk aku, oppa.”

“Jae ah~”

“Aku mohon.”

Kyu oppa merengkuhku dalam pelukannya. Pelukan ini terasa hangat dan menenangkan. Aku membenamkan wajahku di dadanya. Menyembunyikan tangisku dari Hae oppa.

Kyu oppa masih memelukku tapi entah kenapa tubuh ini tiba-tiba terasa sangat berat? Aku tidak sanggup menopang tubuhku lagi.

“Jae ah~” sepertinya itu kata-kata terakhir yang sempat terdengar olehku.

_PoV end_

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s