[One Shot] The Best Gift That We Have

Annyeong!!! FF ini aku buat dalam rangka menyambut hari Natal. Rasanya excited banget menyambut natal tahun ini. Lagian, masih dalam mood bikin FF, akhirnya tercetuslah ide buat bikin FF ini. Mian, kalo misal ceritanya agak geje. Ada beberapa bagian yang terinspirasi dari kisah aku sendiri. Hehehe… *Lah kok curhat?*

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

At least but not the last… Merry Christmas!!! May God always be with you all, chingu!!!

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : The Best Gift That We Have

Author : neys

CAST

Lee Dong Hae (Super Junior)

Park Jae Mi

Yoon Ji Hyeon

Cho Yeon Hae

Choi Si Won (Super Junior)

Park Jung Soo (Super Junior)


_Lee Dong Hae PoV_

Seoul, 17 desember 2010

Natal akan segera tiba. Aku selalu menikmati saat-saat menjelang natal. Jalanan kota yang dihiasi beraneka ragam lampu. Nuansa warna merah, putih dan hijau ada dimana-mana. Lagu-lagu natal mulai dikumandangkan. Juga pohon natal besar yang menakjubkan di tengah kota. Suasana seperti ini selalu terasa mengasikkan. Membuatku lebih bersemangat.

Aku pun sudah membulatkan tekadku untuk menyatakan perasaanku padanya di malam natal. Dia, gadis yang selama ini kuperhatikan secara diam-diam. Gadis yang belum pernah berbicara denganku dengan aku sebagai Lee Dong Hae dan dia sebagai Park Jae Mi. Kita selalu berbincang dengan status Boss dan karyawan.

Hari ini seperti biasa aku berangkat menuju café milikku. Dia adalah pelayan di café ini sejak kira-kira satu tahun yang lalu. Aku jadi ingat hari di mana dia akan diwawancarai untuk kerja di sini.

#Flashback

Aku melirik jam-ku. Ini sudah 30 menit lebih dari jam yang sudah aku tentukan dan dia belum datang. Niat mau kerja atau tidak sih?

Aku melangkah keluar. Tiba-tiba seseorang menbrakku hingga aku dan dirinya sendiri terjatuh.

“Mianhae” ucapnya pelan.

“Ya! Kau ini! Bisa tidak berjalan dengan hati-hati! Kau ini mau ke café apa lari marathon sih?” aku membentaknya.

Ia berdiri kemudian balik membentakku. “Ya! Aku kan sudah minta maaf padamu. Kau pikir kau ini siapa? Kenapa membentakku?”

“Kau bertanya aku ini siapa? Aku Lee Dong Hae, pemilik café Fishy ini. Lalu kau? Memang kau ini siapa? Berani balik membentakku.”

“Jeongmalyo? Kau pemilik café ini? Aigo! Mianhae, Dong Hae ssi.”

“Ooo… Jangan bilang kau adalah Park Jae Mi?”

“Ne. Park Jae Mi imnida.”

“Bagaimana bisa aku mempunyai calon karyawan segalak kau? Bisa-bisa kabur semua pelangganku.”

“Mianhae. Jeongmal mianhaeyo, Dong Hae ssi. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.” Ucapnya sambil membungkukkan badannya.

Entah kenapa aku sedikit tersentuh melihat wajahnya. “Baiklah, kau kuberi kesempatan. Ayo masuk, kalau kau memang berkompeten kau akan aku terima.”

“Kamsahamnida.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.

Omona! Wajahnya imut sekali. membuatku ingin mencubit pipinya yang putih itu. Aish!

Sebenarnya kalau dilihat-lihat, ia tidak ada tampang untuk menjadi seorang pelayan. Penampilannya sederhana tapi sangat menawan. Ia memakai sweater berwarna abu-abu dan celana panjang jeans. Menyelempangkan tas di bahunya. Dan membiarkan rambut panjang coklat-nya terurai begitu saja. Ia lebih cocok untuk pergi jalan-jalan dengan teman sekolahnya.

Aku memandangnya cukup lama hingga ia sedikit salah tingkah. Lucu sekali gadis ini, pikirku. Sepertinya hari-hariku tidak akan membosankan lagi jika dia bekerja di sini.

Aku duduk di kursi kebanggaanku. Aku menyuruhnya duduk di depanku. Memandangnya lekat-lekat dan membuatnya kembali kikuk.

“Perkenalkan dirimu.”

“Park Jae Mi imnida. 18 tahun.”

“18 tahun? Pantas, mukamu masih seperti anak sekolahan. Masih terlalu imut untuk bekerja.”

“Tapi aku mampu bekerja kok.”

“Ara… Ara… Aku akan menerimamu bekerja. Kau mulai bekerja besok pagi ya?”

“Ne, kamsahamnida Dong Hae ssi.”

“Chon maneyo.”

#Flashback end


Aku memandangnya sedang sibuk dengan nampan berisi minuman-minuman. Ia memakai kaos lengan pendek di balik celemeknya. Apa dia tidak kedinginan? Aku melihatnya membawa nampan itu keluar dan mengantarkannya kepada tamu-tamu di luar. Lalu dia berjalan kembali ke dapur.

Aku kembali ke ruanganku. Menunggu jam istirahat. Karena gadis itu pasti akan kemari untuk meminta ijin.

Tok… Tok… Tok…

Pintu ruanganku diketuk oleh seseorang. Aku mempersilahkannya masuk. Tepat seperti dugaanku, Jae Mi masuk ruanganku. Celemek-nya sudah di lepas. Tinggal kaos lengan pendek-nya saja.

“Kau tidak kedinginan memakai pakaian seperti itu?”

“Aniyo, Dong Hae ssi. Lagipula aku membawa syal kok.”

“Kau ingin berpamitan untuk istirahat?”

Dia mengangguk pelan, lalu aku berjalan ke arahnya. Dan sekarang jarak kami berdua sudah sangat dekat. Jujur aku sangat gugup. Jantungku rasanya berdetak 3 kali lebih cepat. Dia sedikit mundur saat aku tetap mendekat meski jarak kami sudah sangat dekat.

“Dong Hae ssi, apa yang mau kau lakukan?”

Aku menarik tangannya dan merengkuhnya ke dalam pelukanku. Sepertinya ia sedikit kaget. Ia hanya diam. Tidak melawan tapi juga tidak membalas pelukanku.

Aku memeluknya cukup lama. Sampai dia mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya.

“Apa kau sedang ada masalah, Dong Hae ssi?”

Aku melepas pelukanku lalu menatapnya. “Kenapa bertanya seperti itu?”

“Mollayo. Kalau sedang tidak ada masalah kenapa tiba-tiba memelukku?”

“Eh. Aniyo. Mianhae tadi aku memelukmu. Tiba-tiba saja tadi aku ingin memelukmu.”

“Mwo? Apa maksud dari kata-katamu Dong Hae ssi?”

“Berhentilah bertanya karena aku sendiri juga tidak tahu jawabannya.”

“Aish! Baiklah. Aku pamit istirahat dulu. Kau sudah membuang 10 menit waktuku dengan percuma, tuan.”

“Kau perhitungan sekali, nona Park Jae Mi. Baiklah, aku tambah waktu istirahatmu 10 menit.”

“Bagus. Aku pergi dulu.”

Ia pun menghilang dari pandanganku. Aku tidak tahu kenapa tadi aku tiba-tiba saja memeluknya. Dan sekarang aku sangat senang. Entahlah mungkin aku sudah dibuat gila olehnya.

1 jam tidak melihatnya terasa begitu lama. Cepatlah kembali Jae Mi.

_PoV end_


_Park Jae Mi PoV_

Aku berlari menuju rumah Ji Hyeon, sahabatku. Ya, setiap hari saat istirahat aku selalu ke sana untuk makan siang. Selain karena rumahnya dekat dengan café tempatku bekerja, aku juga sangat dekat dengan keluarganya. Jadi saat mereka tahu aku diterima bekerja di café Fishy, mereka menyuruhku untuk selalu makan siang di sana.

Aku melihat mobil Jung Soo, itu artinya Yeon Hae juga sedang berada di sini. Tumben mereka ke rumah Ji Hyeon jam segini? Biasanya mereka menghilang entah kemana. Dasar pasangan! Hahaha.

“Jae Mi!!!” pekik Yeon Hae saat melihatku masuk.

“Ya! Tidak perlu berteriak begitu juga aku dengar tahu!”

“Jeongmal bogoshipoyo…” ucapnya sambil menarikku untuk ikut duduk di ruang tamu.

“Masih merindukanku rupanya? Kau itu sih terlalu sering bersama Park Jung Soo-mu!”

“Ya! Jae Mi ah~ kau menyalahkanku?” tanya Jung Soo, seolah tidak terima.

“Sudahlah, biarkan Jae Mi makan dulu. Waktu istirahatnya kan tidak banyak.” Ucap Si Won, kekasih Ji Hyeon menengahi.

Kami berlima duduk di meja makan. Tapi hanya aku dan Ji Hyeon yang makan. Yeon Hae dan Jung Soo baru saja makan siang di restaurant sesaat sebelum mereka ke sini. Sementara Si Won, sudah makan di rumahnya sendiri.

“Jadi bagaimana pekerjaanmu?” tanya Yeon Hae setelah kami kembali duduk di ruang tamu.

“Ya begitulah. Biasa-biasa saja.”

“Bagaimana dengan boss-mu itu? Apa dia masih sering mengamatimu diam-diam?” kali ini giliran Ji Hyeon yang bertanya. Sial! kenapa dia buka rahasia?

“Mwoya?” tanya Yeon Hae, Jung Soo dan Si Won bersamaan.

“Ya Hyeon! Kenapa kau menanyakannya?”

“Mian, aku lupa kau memintaku untuk tidak menceritakannya kepada siapapun terutama kepada Yeon Hae.”

“Mwo? Kau tega sekali padaku Jae ah~?” ia memasang wajah memelas padaku.

“Ceritakan pada kami. Kau tidak boleh menyembunyikan apa-apa dari kami.” Ucap Jung Soo, disertai anggukan dari Yeon Hae dan Si Won.

“Ara… Ara… Dia masih tetap mengamatiku diam-diam. Bahkan hari ini saat kita sedang berada di ruangannya, ia tiba-tiba memelukku.”

“MWO???” kali ini mereka berempat sama-sama memekik kaget.

“Omona! Kalian kompak sekali? hahaha.”

“Ya! Kenapa kau tenang sekali? Apa dia sudah mengungkapkan perasaannya padamu?” tanya Ji Hyeon padaku.

“Aniyo. Dia tidak mengatakan apa-apa padaku. Lagipula, siapa yang bilang kalau dia menyukaiku?”

“Ya! Babo yeoja! Jelas-jelas dia menyukaimu!” Yeon bersuara.

“Lalu? Bagaimana sebenarnya perasaanmu padanya?” Si Won bertanya padaku.

“Mollayo. Aku senang saat aku berbincang dengannya. Meskipun selalu dengan batasan status atasan dan bawahan. Dia baik dan tidak sombong. Tapi menurutku dia babo. Kalau dia memang menyukaiku, kenapa tidak pernah mengajakku untuk istirahat bersama dengan dia? Atau bahkan meminjamiku jacket saat tahu aku hanya memakai kaos ini tadi.”

“Kalau kalian tanya apa aku mencintainya? Aku juga tidak tahu. Aku berharap dia bisa lebih perhatian padaku dibanding hanya memandangku diam-diam tapi dia tidak pernah melakukannya. Dan soal pelukannya tadi aku tidak mengerti apa-apa.”

“Jae Mi ah~ mungkin dia masih bingung dengan perasaannya.” Ucap Ji Hyeon.

“Hahaha. Mungkin.”

“Aku rasa dia masih malu mengutarakannya padamu. Karena dia berpikir bahwa selama ini kau pasti hanya menganggapnya sebagai atasan-mu. Dia takut kau tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.” Jelas Jung Soo, seoalah dia paham sekali apa yang dirasakan Dong Hae padaku.

“Sudahlah, tidak penting juga. Toh, aku masih punya Cho Kyu Hyun. Hahaha.”

“Ya! kenapa mengungkit-ungkit nama oppa-ku? Kau sendiri yang sudah menolaknya bukan?” protes Yeon Hae tidak terima.

Ya, Cho Kyu Hyun. Oppa dari Cho Yeon Hae. Namja yang dulu sangat mencintaiku. Tapi sayangnya aku tidak pernah mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Aku menyayanginya layaknya seorang dongsaeng menyayangi oppa-nya. Dia sangat baik. Terlalu baik bahkan. Sekarang dia sedang berada di Amerika untuk melanjutkan studi-nya.

“Ya! Aku hanya bercanda, Yeon.” Ucapku sambil tersenyum padanya.

“Bagaimana dengan rencanamu untuk kuliah?”

“Mollayo, Yeon. Mungkin aku harus menundanya beberapa tahun lagi. Tidak ada biaya. Tidak ada harapan.”

“Bagaimana dengan beasiswa?”

“Aku sudah pernah mencobanya, Hyeon. Tapi gagal.”

“Kau kan bisa mencobanya lagi.”

“Iya, nanti akan aku coba lagi, Soo. Ya sudah, aku kembali ke café dulu ya?”

Aku bergegeas kembali ke café, sepertinya aku akan tiba terlambat karena tadi keasikan ngobrol bersama teman-teman. Aish! Semoga dia tidak marah.

>>>

“5 menit 33 detik.” Itulah ucapan pertama yang aku dengar saat aku baru saja tiba di café. Siapa yang mengatakan itu? Siapa lagi kalau bukan Lee Dong Hae.

“Ya! kau tidak lihat aku sudah berlari dengan sangat kencang?”

“Mwo? Tumben sekali kau berani bicara seperti itu padaku?”

“Aish! Mianhae, aku lupa kau Boss-ku.”

“Kalau begitu sebagai hukumannya. Temani aku jalan-jalan saat malam natal nanti.”

“Mwoya? Kau lupa kalau tanggal 24 café buka sampai malam? Itu artinya aku harus bekerja.”

“Aniyo. Aku mau kau menemaniku malam itu. Tidak ada kata tidak. Aku mengijinkanmu tidak bekerja malam itu.”

“Tapi itu artinya…”

“Aku tidak akan memotong uang lemburmu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu malam natal nanti.”

“Aish! Baiklah.”

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Beberapa hari berlalu. Aku semakin gugup jika mengingat bahwa malam natal tidak lama lagi. Bagaimana caraku mengatakan padanya? Bagaimana kalau dia menolakku? Aigo!

“Permisi, Dong Hae ssi.”

Aku kaget mendengar ada suara. Aku menoleh. Dia. Kenapa dia mengagetiku sih?

“Ya! untung aku tidak punya penyakit jantung! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?”

“Aku sudah mengetuknya berkali-kali. Tapi tidak ada respon apa-apa dari dalam. Makanya aku masuk saja.”

“Ada perlu apa mencariku?”

“Hanya mengantarkan sarapan untukmu.”

“Tumben kau yang mengantar? Mana yang lain?”

“Yang lain sedang sibuk. Aish! Kenapa kau cerewet sekali sih?”

“Ya! Akhir-akhir ini kau sudah mulai berani padaku?”

“Aigo! Akhir-akhir ini aku selalu lupa kalau kau adalah boss-ku.”

“Apa kau bilang?” aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Ya! Mau apa kau? Mau memelukku lagi? Sebenarnya kau ini kenapa sih?”

Aku kaget mendengar pertanyaannya. Wajahku pasti sudah memerah saat ini.

“Ya sudah, sebelum terjadi hal-hal yang kau inginkan, aku keluar dulu.”

Dia hendak meninggalkan ruanganku tapi kemudian ia tersandung sesuatu dan oleng. Aku dengan sigap menangkap tubuhnya dengan tanganku. Kini badannya tertahan oleh tangan kananku. Wajah kami benar-benar sangat dekat sekarang. Dan entah kenapa aku enggan untuk membantunya berdiri. Melihatnya dari dekat seperti ini, ada perasaan senang tersendiri.

Cukup lama kami dalam posisi seperti ini. Entah dia sadar atau tidak tapi kami saling pandang dari tadi. Dia baru sadar saat seseorang mengetuk pintu ruanganku. Ia langsung berusaha untuk berdiri. Dan betapa beruntungnya diriku saat dia hendak berusaha berdiri, bibirnya tidak sengaja menyentuh pipiku. Aku senyum-senyum penuh arti.

“Ya! kenapa kau senyum-senyum sendiri? Aigo! Bagaimana bisa terjadi hal seperti tadi. Sudah aku pergi dulu.”

Ia kembali akan berjalan keluar tapi aku menahan lengannya dan menariknya ke hadapanku.

“Jangan lupa, malam natal nanti kau adalah milikku.”

“Apa maksud kata-katamu? Aku kan hanya akan menemanimu melewati malam natal saja. Sudahlah, semakin lama di sini bisa-bisa aku gila karenamu.”

Ya, Jae Mi ah~ malam natal nanti kau benar-benar akan jadi milikku. Jadi kekasihku.

>>>

Seoul, 24 desember 2010

Hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan. Hari ini dia bekerja seperti biasa. Saat dia masuk ke ruanganku untuk meminta ijin istirahat aku melarangnya. Aku menyuruhnya untuk menghabiskan waktu istirahatnya bersamaku. Mungkin dia kesal, daritadi dia mengomel terus.

“Ya! Sebenarnya kenapa sih kau menyuruhku untuk tetap di sini?”

“Aniyo.”

“Kau menyuruhku untuk istirahat di sini. Tapi kenapa tidak ada makanan sama sekali?”

“Tunggulah sebentar lagi.”

“Kau memasan makanan dari restaurant dan menyuruhnya untuk dikirim kemari?”

“Ne.”

“Ya! tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku sedikit lebih panjang? Menyebalkan sekali!”

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Gadis ini lucu sekali. semakin membuatku penasaran saja.

“Kau benar-benar mencurigakan Lee Dong Hae. Aku rasa kau perlu aku bawa ke dokter jiwa. Akhir-akhir ini kau sering sekali tertawa tanpa sebab dan senyum-senyum sendiri.”

“Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja kok.”

“Siapa yang sedang mengkhawatirkanmu? Aku hanya takut akan keselamatanku.”

“Tenanglah. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

“Kenapa tidak?”

“Mana ada seorang pria yang menyakiti wanita yang ia cintai?”

“Ne???”

“Ah, aniyo.”

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku menghampirinya dan menyuruhnya bersiap-siap. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi. Ia memakai kaos merah dan mantel berwarna putih. Mengenakan celana jeans hitam dan sepatu boots putih. Sangat manis.

Begitu ia sudah ada di depanku aku langsung menggandeng tangannya dan menariknya keluar. Aku menyuruhnya naik ke dalam mobilku.

“Kau manis dengan pakaian itu.”

“Gomawo.”

“Kau mau kemana?”

“Ya! Bukannya kau yang mengajakku? Kenapa malah balik bertanya?”

“Kita ke sungai Han saja ya? Memandang air mancur dari jembatan banpo.”

“Kau suka ke sana?”

“Ne. Kau?”

“Dulu waktu aku masih kecil aku sering kesana bersama dengan appa dan eomma-ku. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kajja, kita ke sana saja.”

“Kau seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, Jae Mi ah~”

>>>

“Whoa!!! Areumdawoyo!!!” ucapnya sambil merentangkan tangan dan menghirup udara malam yang dingin. Salju yang turun menimpa seluruh tubuhnya.

“Jae Mi ah~” ia menoleh padaku. “Kemarilah. Duduklah di sebelahku.”

“Waeyo?” tanyanya sambil melangkah ke arahku lalu duduk di sampingku.

“Aniyo. Hari ini aku sangat bahagia karena aku bisa mengajakmu pergi denganku.”

“Mwoya? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Aniyo.”

“Dasar aneh!”

Ia kembali beranjak dari duduknya. Mendekat ke arah sungai dan menutup matanya. Seolah hanya ingin mendengar suara alam. Tapi tentu saja tidak bisa. Malam ini sangat ramai di sini. Sebenarnya tujuan utamaku bukanlah mengajaknya kemari. Tapi sepertinya dia sangat merindukan tempat ini. Mungkin karena ia memiliki banyak kenangan di tempat ini. Ya, sebenarnya aku tahu bahwa kini ia seorang diri. Orang tuanya meninggal 2 tahun yang lalu saat ia masih duduk di bangku kelas 3. Ia berjuang agar dapat menyelesaikan sekolahnya waktu itu. Bekerja part time, itulah kegiatannya selain sekolah. Saat aku mengetahui hal ini beberapa waktu yang lalu, aku bersyukur. Aku tidak salah mencintai seseorang. Dia gadis yang kuat dan pantas untuk dicintai.

Aku membiarkannya sedikit lama untuk menikmati suasana sungai Han. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku mengajaknya pergi dari sini. Aku membawanya ke suatu tempat. Bukit. Tempatku biasanya menyendiri.

“Dong Hae ssi, tempat ini indah sekali?” ucapnya saat kami sudah tiba di tempat yang sebenarnya ingin aku tunjukkan padanya. Aku membawanya ke bukit. Aku sendiri tidak tahu persis tentang tempat ini. Aku menemukan tempat ini saat aku sedang ada masalah dan menyetir tanpa arah.

“Ne. Tempat ini juga merupakan tempatku menyendiri. Di sini sunyi dan tempatnya sangat nyaman.”

“Kau benar. Perasaanku menjadi sangat tentram.”

Lagi-lagi dia memejamkan mata, seolah sedang menikmati alam. Aku suka melihat wajahnya yang seperti itu. Sangat tenang dan polos.

“Kau harus memberiku sesuatu, Jae Mi ah~”

“Mwo?” dia membuka matanya dan langsung menoleh padaku.

“Hahaha. Aku kan sudah membawamu ke sini. Tempat ini sangat indah bukan? Gadis sepertimu mana mungkin mengetahui tempat seindah ini.”

“Ya! Apa maksdumu dengan gadis sepertiku?”

Aku beranjak dari tempat dudukku, berlari menjauh darinya. Ia mengejarku. Kami berkejar-kejaran sambil tertawa. Benar-benar seperti anak kecil.

Kami bercanda, main tebak-tebakan. Malam yang sangat menyenangkan.

Dan sekarang. Dia sedang berdiri memandang ke bawah. Sementara aku duduk di belakangnya. Memandang punggungnya.

“Jae!” ia menoleh padaku sambil tersenyum.

“Sung tan chuk ha, Jae Mi ah~” ia langsung mengambil handphone-nya.

“Kau benar. Ini sudah natal. Ne, Sung tan chuk ha Dong Hae ssi!” ucapnya sambil tersenyum kemudian kembali menatap pemandangan dari bukit.

“Jae ah~” ia kembali menoleh.

“Kau terus-terusan menggangguku, Dong Hae ssi.”

“Saranghae, Jae ah~” ia tidak menjawabku, malah menatap ke langit. Menatap bintang-bintang. Tak lama ia menoleh padaku sambil tersenyum.

“Na ddo saranghae.”

Mendengar ucapannya aku langsung bangkit berdiri untuk menghampirinya.

“Jeongmalyo?”

“Ne, na nomu nomu joahaeyo, Dong Hae ah~”

“Gomawo, Jae Mi ah~. Na nomu nomu saranghae.” Aku memeluk pinggangnya. Memandang wajahnya lekat-lekat.

“Berhentilah memandangku seperti itu. Aku tidak akan kemana-mana, Tuan Lee Dong Hae.”

“Ya! Kau tidak sopan! Panggil aku oppa.”

“Tidak mau. Aku panggil kau Dong Hae saja. Hahaha.” Ucapnya sambil berlari menjauh dariku. Kali ini giliran aku mengejarnya.

Aku berhasil menangkapnya. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. “Tahukah kau? Natal ini adalah natal yang paling indah untukku. Karena Tuhan mengirimkanmu untukku. Kau adalah kado natal terindah yang pernah aku dapat, Jae Mi ah~”

“Berhentilah menggombal, Hae.”

Aku melepas pelukanku. “Sudah kubilang, panggil aku oppa. Usiaku 5 tahun lebih tua darimu.”

“Aku tidak peduli.” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

“Oh ya, aku masih punya satu kejutan lagi untukmu.” Aku menuju ke mobilku dan kembali dengan membawa sebuah amplop. Aku menyerahkan amplop itu pada Jae Mi. Ia membukanya perlahan dan nampak kaget saat melihat isinya.

“Hae? Kau? Gomawo…” ucapnya sambil terisak.

“Uljimara, jagiya. Aku kan memberikan ini supaya kau tertawa bahagia.”

“Ani, Hae. Aku menangis karena terlalu bahagia. Bagaimana bisa kau mendapat ini? Padahal aku saja sudah tidak lagi berharap banyak.”

“Aku tahu kau sangat menginginkannya. Dan aku tahu kau sebenarnya mampu. Hanya saja kau terlalu takut untuk mencoba kembali.”

“Kau benar. Tahun lalu, saat aku gagal mendapatkan beasiswa ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak mencobanya lagi karena aku sudah terlanjur putus asa. Kau? Bagaimana caranya?”

“Hae bisa melakukan apa saja untuk gadis yang dicintainya. Berterima kasihlah pada teman-temanmu yang sudah membantuku. Mereka yang menceritakan banyak hal tentangmu padaku.”

“Nuguya? Ji Hyeon, Yeon Hae, Si Won dan Jung Soo maksudmu? Aish! Mereka!”

“Ne, mereka semua. Mereka benar-benar sayang padamu. Dan aku sangat berterima kasih. Karena mereka aku jadi semakin mengenalmu. Mengetahui impianmu dan masa lalumu. Aku jadi paham bagaimana perjuanganmu saat kau harus kehilangan orang tuamu. Juga tentang mimpimu untuk menjadi seorang psikolog. Tapi kau terlalu takut untuk mengejar mimpimu, karena kau merasa kau sudah tidak memiliki harapan. Kau seolah mengubur jauh-jauh niatmu untuk melanjutkan studi-mu ke universitas.”

“Hae…” dia menangis di dalam pelukanku. Aku membelai punggungnya lembut.

“Kau juga adalah kado natal terindah dari Tuhan untukku. Aku belum pernah mendapat kado natal sebaik kau. Dan ternyata, tahun ini aku tidak hanya mendapat satu kado natal saja. Aku dapat banyak. Kau, beasiswa ini, juga kasih sayang dari sahabat-sahabatku.”

Ia melepas pelukannya. Sekarang kami sedang duduk bersebelahan sambil menatap bintang-bintang di langit, sesekali salju jatuh di wajah kami. Suasana natal benar-benar terasa.

“Sekarang aku tahu Dia sangat-sangat menyayangiku. Mungkin aku tidak mendapat apa yang aku inginkan, tapi aku mendapatkan apa yang aku butuhkan. Dan semua itu tepat pada waktunya.

God, I know You are not in a hurry. Your plans for me are on time. You need no schedule or reminders. For I’m always on Your mind.

Yah, setidaknya begitulah menurut Elaine Wright Calvin. Dan sekarang aku benar-benar sependapat dengannya.”

“Kalau saja waktu itu aku langsung mendapatkan beasiswa itu, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu. Aku juga tidak akan tahu bagaimana rasanya bekerja dari pagi hingga sore. Berjuang mengumpulkan uang agar aku bisa kuliah dengan hasil jerih payahku. Mungkin aku juga tidak akan tahu betapa sahabat-sahabatku sangat sayang padaku. Natal kali ini benar-benar terasa berbeda. Dong Hae ah~ I got the best gift that I never had before.”

“Na ddo, you are the best gift that I have, Jae Mi ah~”

The snow is falling, the city is white
Your eyes are shining like diamonds tonight
And we’re all alone, there’s no one home
You’re fin’lly in my arms again

The night is silent, the moment is here
I couldn’t ask for more than having you near
‘Cause I love you, girl, and I always will
And now I know the moment is right
The moment is right

‘Cause I’ve been waiting to give this gift tonight
I’m down on my knees, there’s no better time
It’s something to last for as long as you live
Tonight, I’m gonna give you
All my heart can give

I thought I’d give you something shiny and new
I tried to find something worthy of you
But I realized when I looked inside
There’s some things that money can’t buy
Oh, no

I feel the magic whenever you’re near
I feel it even on this time of the year
‘Cause I love you, girl, I always will
And now I know the moment is right
The moment is right

You know I’ll always be true to you
And you know I’m the one you can turn to
Oh, yeah
Anytime, anyplace, or anywhere
You know that I’ll always be there
Oh, baby

(98 Degrees – This Gift)

 

.F.I.N.

Advertisements

2 thoughts on “[One Shot] The Best Gift That We Have

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s