[Series] Star Of Love – Part 5

I’m back!!! Part ini adalah part yang paling penuh perasaan dari part-part sebelumnya, menurutku. Apalagi di bagian belakang-belakang, mesti inhale exhale berkali-kali. Nahan juga supaya ga mewek. Hahaha.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Star of Love

Author : neys

CAST

Lee Dong Hae (Super Junior)

Choi Si Won (Super Junior)

Park Jae Mi

Cho Yeon Hae

Yoon Ji Hyeon

Kim Chae Sun


_Choi Si Won PoV_

“Si Won sunbae?”

Aku mendengar seseorang memanggilku. Suara ini. Ya, suara ini. Aku menoleh dan melihatnya berada di depanku.

“Jae Mi?”

Mengapa dia harus muncul tepat di saat aku baru saja berusaha untuk benar-benar melupakannya. Di saat aku baru saja mengambil sebuah keputusan untuk menerima wanita lain di hatiku.

Mengapa?

“Kau kenapa, sunbae?”

Suaranya membuyarkan lamunanku. Tapi aku hanya menggeleng. Aku tak tahu harus berkata apa. Melihat senyumnya membuatku tercekat. Aku merindukan senyumannya. Aku merindukan suaranya. Ya, aku sangat merindukannya. Bisakah ia merasakannya?

“Apa kau tidak merindukanku? Kenapa diam saja melihatku?”

Oh Tuhan! Dia menanyakan apa aku merindukannya? Ya, tentu saja aku merindukanmu.

Aku tersenyum lalu memeluknya.

“Tentu saja aku merindukanmu, babo yeoja!”

“Ya! Kenapa kau memanggilku seperti itu?” ia melepaskan pelukanku dan aku tertawa melihat wajahnya yang cemberut.

“Teruslah tertawa. Dasar!”

“Ya! Wajahmu itu lucu sekali tau! Bagaimana aku tidak tertawa?”

“Kau tidak berniat memperkenalkanku padanya?” tanyanya sambil menatap Ji Hyeon.

“Ne, kenalkan ini Yoon Ji Hyeon. Hyeon, ini Jae Mi. Adik kelasku saat SMU dulu.”

“Banggawoyo, Ji Hyeon onnie” Ia membungkukkan badannya lalu tersenyum

“Ne, banggawoyo.” Sahut Ji Hyeon sambil tersenyum pada Jae Mi.

“Dia pacarmu, sunbae?

“Ya begitulah” aku menjawab dengan senyum yang kupaksakan. Dan saat aku menoleh pada Ji Hyeon, aku merasa ada perubahan ekspresi pada wajahnya.

“Wah, kau beruntung sekali sunbae. Dia sangat cantik.”

Aku dan Ji Hyeon sama-sama tersenyum.

“Bagaimana kalau kita melanjutkan obrolan ini di café saja?” usul Ji Hyeon

“Ide bagus!” seruku

“Kau bersemangat sekali sunbae? 2 tahun tidak melihatku ternyata membuatmu begitu merindukanku ya? Hahaha..”

-At Cafe-

“Kau masih bersama Dong Hae?”

Itulah pertanyaan pertama yang terlontar. Jujur, aku sangat penasaran dengan hal ini. Semenjak lulus aku memang sengaja menghilang dan tidak menghubungi mereka. Aku ingin melupakan perasaan ini terlebih dahulu.

Ia tertawa kecil. “Ya! Kenapa kau terlalu straight to the point, sunbae?”

Aku hanya tersenyum padanya.

“Dong Hae oppa sedang study di Jepang. Kau tahu kan?”

“Ne, aku tahu. Ya! Kenapa kau tidak langsung menjawab pertanyaanku saja?”

Dia tertawa. “Kau penasaran sekali, sunbae? Ne, aku masih bersamanya. Bagaimana mungkin aku semudah itu melepaskan orang yang aku cintai? Jarak bukanlah masalah bagiku. Asalkan aku dan dia masih saling mencintai. Aku percaya padanya.”

Hatiku hancur saat dia mengatakan hal itu padaku. Mengapa penjelasannya masih membuat dadaku terasa sesak? Tanpa sengaja aku melihat sesuatu di lehernya. Dia masih memakainya. Dia masih mamakai kalung pemberianku.

“Ceritakanlah bagaimana kau bertemu dengan sunbae, onnie!”

Ji Hyeon tersenyum.

“Aku dan dia satu fakultas di kampus.”

“Oh ya? Berapa lama kalian berpacaran?”  tanyanya antusias.

“Baru saja, saeng. Sesaat sebelum kau menyapanya.”

“Jinjja? Wah, berarti aku mengganggu kalian ya? Jeongmal mianhaeyo, onnie, sunbae.” Aku melihat ada gurat penyesalan di wajahnya.

“Gwaenchana, saeng.”

“Gomawo, onnie sudah memaafkanku. Lalu, bagaimana dia menyatakannya padamu, onnie?”

“Ya! Kenapa kau menanyakan hal itu?” selaku.

“Memang kenapa? Aku kan ingin tahu! Wek!” usai menjulurkan lidahnya kepadaku dia kembali menatap Ji Hyeon.

“Bukan dia tapi aku yang mengungkapkan terlebih dahulu.” Ujar Ji Hyeon, aku melihat kesedihan di matanya saat dia mengucapkan itu.

“Jinjja? Kau keren sekali onnie? Dan kau, sunbae! Ternyata kau masih sama seperti dulu! Tidak berani mengungkapkan perasaanmu terlebih dulu pada gadis yang kau sukai.”

Deg! Masih sama seperti dulu? Tidak berani mengungkapkan perasaan terlebih dulu? Apa dia tahu kalau aku mencintainya?

“Kau kenapa melamun, sunbae? Tidak perlu kaget seperti itu. Aku mengetahui itu dari Dong Hae oppa. Dia bilang saat SMU kau pernah menyukai seorang gadis. Murid sekolah kita juga. Tapi kau tidak pernah berani menyatakan itu sampai akhirnya kau lulus dan terdampar di sini.”

“Jinjja? Dong Hae menceritakan itu semua padamu? Tapi dia tidak bilang siapa gadis itu kan?”

“Aniyo. Dia tidak memberitahuku. Bagaimana kalau kau saja yang memberitahuku? Hm… tapi sudahlah! Itu sudah tidak perlu! Sekarang kan sudah ada onnie di sampingmu. Sudah saatnya melupakan gadis itu, sunbae!”

“Ne, saatnya melupakan gadis itu. Aku tidak mau merusak kebahagiaannya. Lagipula gadis itu tidak pernah mencintaiku. Oh ya, ternyata kau masih memakai kalung pemberianku ya?”

Dia melirik kalungnya sekilas. “Ne, aku sangat menyukai kalung ini makanya aku tidak melepasnya.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sampai saat ini aku belum mengetahui kado Dong Hae hari itu.

“Oh ya, ulang tahunmu waktu itu. Jadi apa kado Dong Hae untukmu?”

“Mwo? Ulang tahunku waktu itu. Dia memberiku gantungan handphone. Ini!” ucapnya sambil mengangkat handphone-nya hingga aku bisa melihat jelas gantungannya.

Gantungan handphone itu unik. Rantainya berbentuk hati yang saling terkait. Di ujungnya ada sebuh bingkai yang terbuat dari rajutan berbentuk bintang. Wajah mereka berdua nampak dalam rajutan tersebut. Benar-benar indah.

Bintang. Ya, Jae Mi sangat menyukai bintang. Itu sebabnya aku memberinya sebuah kalung berliontinkan bintang. Juga karena dia adalah bintang hatiku.

Ternyata gantungan yang selalu ia pakai ini hadiah ulang tahun dari Dong Hae

“Bagus.”

“Tentu saja. Oppa juga memiliki satu yang ia pasang di handphone-nya. Bukan barang mahal memang tapi ini jauh lebih istimewa dan membuatku terharu. Tidak membuat sendiri memang. Tapi dia sendiri yang mendesign-nya.”

“Kalian sangat serasi. Chukaeyo! Kau ada perlu apa ke Busan?”

“Oh, aku mengunjungi saudaraku di sini. Oh ya, kau dapat salam dari Yeon Hae. Dia menyuruhmu untuk cepat pulang, sunbae.”

“Hahaha. Dasar anak itu!”

“Kenapa kau masih memanggilnya sunbae, Jae Mi ah~. Kau panggil dia oppa saja.”

“Apa boleh?”

“Tentu saja. Begitu akan lebih enak di dengar.”

“Baiklah kalau begitu, onnie. Aku akan memanggil kekasihmu ini oppa. Bagaimanapun juga dia memang sudah seperti oppa-ku.”

“Bagaimana kabar Hae? Apa dia tidak pernah ke Seoul untuk mengunjungimu?”

“Mollayo. Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kabarnya. Sepertinya dia sibuk akhir-akhir ini.”

“Tapi hubungan kalian baik-baik saja kan?”

“Kau tenang saja, oppa. Oh ya, lagipula aku akan kuliah di Jepang. Appa dan omma-ku juga sudah setuju. Dengan begitu aku tidak akan kesepian lagi saat aku merindukannya. 2 tahun ini benar-benar menyebalkan. Hahaha.”

Syukurlah, sekarang dia akan menemukan kembali kebahagiaannya bersama dengan Dong Hae. Dan aku akan memulai lembaran baru bersama Ji Hyeon.

_PoV end_


_Author PoV_

Hari ini Jae Mi kembali ke Seoul. Yeon Hae menjemputnya di bandara. Lusa mereka akan berangkat ke Jepang. Ya, Yeon Hae pun akan kuliah di Jepang. Bagaimana tidak sekarang ia sudah lebih dekat dengan Park Jung Soo-nya itu.

#Flashback

“Jae Mi!!! Dia mengirimiku pesan!!!” Yeon Hae berteriak-teriak saat Jae Mi baru saja masuk kelas.

“Nuguya?”

“Park Jung Soo.”

“Jeongmalyo? Bagaimana bisa?”

“Dia teman baru Hae oppa di Jepang. Dan ternyata dia tahu tentangku, ya meskipun dia tidak tahu seperti apa diriku. Setidaknya dia tahu namaku. Dan dia tertarik untuk mengenalku. Wah! Aku senang sekali.”

“Ya… Ya… Ya… Semoga berhasil deh kalo gitu.”

“Ya! Kenapa kau tidak antusias begitu? Aku kan sedang bahagia.”

“Ara… Traktir aku makan ya?”

“Mwo?”

“Kau kan sedang bahagia? Berbagi sedikit ya? Hahaha.”

“Aish!”

#Flashback end


“Ya! Kau benar-benar merahasiakan kedatanganku dari oppa kan?”

“Tenang saja. Aku tidak bilang apa-apa padanya.”

“Ya! Kenapa wajahmu begitu? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?”

“Aniyo. Kau yakin kau mau kuliah di Jepang?”

“Ya! Kau kenapa sih? Tentu saja aku yakin. Sudah, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.”

Yeon Hae tidak sedang memikirkan hal yang bukan-bukan. Dia hanya memikirkan bagaimana jika Jae Mi tahu apa yang sebenarnya Dong Hae lakukan di Jepang. Mungkin sudah waktunya, batin Yeon Hae.

2 days later

Jae Mi dan Yeon Hae sudah berada di dalam pesawat. Jae Mi nampak tidak sabar bertemu dengan Dong Hae. Sudah 2 tahun dia tidak bertemu dengannya. Dia bertanya-tanya tentang apa yang Dong Hae lakukan di Jepang. Sepertinya sibuk sekali. mereka hanya berhubungan lewat telepon. Sesekali mereka chatting lewat skype, tapi itupun jarang. Dia benar-benar merindukannya.

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Hari ini aku berjanji untuk menemani Chae Sun ke butik untuk mencoba gaun untuk pertunangan kami. Sudah 2 tahun, tapi aku tidak merasakan apa-apa terhadapnya. Aku malah lebih menganggapnya seperti adikku sendiri.

Pertunanganku dan Chae Sun sudah di depan mata. Apa yang harus aku lakukan untuk membatalkan semua ini? Ataukah aku harus melepas Jae Mi dan belajar untuk mencintainya?

Jae Mi ah~ bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Aku ingin berdua denganmu. Aku merindukan suaramu. Aku ingin memelukmu.

Ijinkan aku untuk bertemu lagi denganmu.

“Oppa, bagaimana?”

“Cantik.”

“Baiklah. Setelah ini temani aku jalan-jalan ya? Aku ganti dulu.”

Aku hanya mengangguk padanya.

Usai dari butik aku menemaninya jalan-jalan keliling Jepang. Sesekali ia masuk ke pertokoan, membeli ini dan itu. Sesekali ia menawarkan barang-barang untuk pasangan tapi aku menanggapinya dengan malas. Kalau saja gadis yang ada di sampingku sekarang ini adalah Jae Mi aku pasti akan langsung membelinya.

Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke apartmentku. Ya, sekarang aku sudah tinggal di apartment-ku sendiri.

Entahlah apa yang mau dia lakukan di dalam apartment-ku. Dia senang sekali berlama-lama di dalam apartment-ku. Padahal aku selalu diam dalam kamar saat dia sedang di sana. Terkadang aku merasa bersalah padanya. Tapi aku tetap tidak bisa mencintainya.

“Oppa? Apa kau tidak senang jalan bersamaku?”

“Aniyo.”

“Oppa, aku sudah cukup bersabar selama 2 tahun ini. Aku menunggu agar kau dapat mencintaiku. Tapi kau tidak pernah menganggapku.”

“Mian, Sun ah~ aku…”

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku terus berusaha membuatmu agar bisa mencintaiku tapi kau bahkan seolah tidak ingin memandangku. Aku harus bagaimana, oppa?” dia mulai menangis.

“Mianhae, Sun ah~ Aku akan berusaha untuk mencintaimu.”

“Jeongmalyo?”

“Ne, aku akan belajar mencintaimu. Mian, Sun ah~ Jeongmal mianhaeyo.”

“Kalau begitu beri aku sebuah harapan. Peluk aku untuk yang pertama kalinya.”

Aku tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya aku pun memeluknya. Memeluk dengan penuh perasaan bersalah. Bersalah terhadap Chae Sun terlebih terhadap Jae Mi.

Cukup lama aku memeluknya sekaligus menenangkannya. Sampai aku menyadari ada seseorang yang melihat kami sambil menangis. Sedetik setelah mata kami bertemu, ia beranjak dari tempatnya lalu berlari.

Park Jae Mi. Ia melihatku sedang memeluk Chae Sun. Dia ada di Jepang?

“Sun ah~ Mian, sepertinya aku ketinggalan sesuatu. Kau masuklah dulu ke dalam.” Ucapku setelah melepas pelukanku.

“Ne. hati-hati, oppa.”

Aku langsung berlari mengejar Jae Mi. Aigo! Kemana dia? Dia kan belum mengenal jalanan Jepang. Aku tidak menyangka dia akan ke Jepang.

Aku terus mencarinya sampai akhirnya aku melihatnya sedang duduk di pinggir jalan, di depan rumah seseorang tepatnya, sambil menangis. Aku benar-benar telah melukai hatinya.

“Jae ah~ uljimara.” Ucapku sambil menghapus air matanya.

Dia tetap menangis dan tidak bergerak sedikitpun.

“Jagiya, mianhae. Jeongmal mianhaeyo.” Kali ini aku menggenggam jemarinya.

“Siapa dia?”

“Namanya Chae Sun.”

“Aku tidak tanya namanya. Aku tanya siapa dia? Apa hubunganmu dengannya?”

“Jae ah~”

“Tidak bisa menjawab pertanyaanku?”

“Dia calon tunanganku.”

“Tunangan???” aku mengangguk pelan. Air mataku pun mulai jatuh. Dia kembali diam. Cukup lama. Lalu tiba-tiba ia memelukku.

“Oppa, itu artinya kau akan meninggalkanku? Jadi karena dia kau tidak pernah mengunjungiku di korea? Jadi cintamu sekarang bukan lagi untukku, tapi dia? Aku harap kau bahagia dengannya, oppa.” Dia melepas pelukannya lalu mengusap air matanya.

“Boleh pinjam handphone-mu?” aku mengeluarkan handphone-ku dari saku lalu memberikan padanya.

“ Kau sudah tidak memakai gantungan itu lagi ya? 2 tahun yang lalu seharusnya kau bilang padaku kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi, oppa. Jadi setidaknya aku bisa belajar berhenti mencintaimu juga.” Dia tersenyum padaku.

“Aku pergi dulu. Berbahagialah dengannya. Gomawo buat semuanya selama ini.” Ia baru saja akan berjalan tapi aku menahan lengannya.

“Jamkan. Dengarkan aku dulu.”

“Waeyo? Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku, oppa. Aku mengerti cinta tidak dapat dipaksakan jadi aku tidak akan pernah memaksamu untuk terus mencintaiku.”

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Aku menangis. Benar-benar menangis. Aku tidak tahan melihat orang yang aku cintai berpura-pura tegar di hadapanku. Aku tahu dia sangat sedih. Kenapa dia tidak marah saja padaku? Aku berhak mendapat makian atau tamparan sekalipun. Tapi dia sama sekali tidak melakukan itu padaku. Jae Mi ah~ kau semakin membuatku merasa bersalah. Aku memang ingin bertemu lagi denganmu, tapi tidak dengan cara ini.

Dia mengelus pundakku pelan. Sudah lama sekali aku tidak memeluknya. Aku merindukan pelukan ini, tapi tidak dalam kondisi seperti ini. Sama-sama sakit.

“Jae ah~ ada hal yang ingin aku ceritakan padamu. Biarkan aku menceritakannya sambil memelukmu.”

“Baiklah. Ceritakan padaku.”

“Kim Chae Sun. Itu nama calon tunanganku. Aku akan segera bertunangan dengannya. Bukan karena aku mencintainya. Tapi karena rencana appa. Kau pernah aku beri tahu bukan tentang bagaimana watak appa-ku. Juga tentang penyakit jantungnya yang parah. Kalau saja appa tidak punya penyakit itu aku masih berani untuk menentangnya. Karena aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak ingin melepasmu. Waktu aku tahu aku akan dijodohkan, aku sangat sedih karena itu artinya aku tidak bisa bersama dengan wanita yang aku cintai. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Dan soal gantungan itu, mian karena aku tidak memakainya lagi. Aku tidak sanggup jika appa mengetahui tentangmu lalu ia datang padamu dan memintamu untuk menjauhiku. Aku juga tidak mungkin dengan terang-terangan menyakiti hati Chae Sun. Tapi aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Jeongmal mianhaeyo, jagiya.”

Dia hendak melepaskan diri dari pelukanku. Tapi aku manahannya.

“Biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama. Aku benar-benar merindukanmu. Jebal.”

Aku bisa merasakan ia kembali menangis. Aku benar-benar sangat jahat. Dari awal aku jelas tahu bahwa semua akhirnya akan seperti ini. Harusnya aku melepaskannya dulu supaya ia bisa mendapatkan penggantiku. Tapi sekarang, aku sudah membuang 2 tahun waktunya percuma, hanya untuk menungguku.

“Tenanglah, oppa. Aku paham keadaanmu. Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja. Haengbokaseyo. Saranghae, oppa.”

Dia berusaha melepas pelukanku lagi. Kali ini aku membiarkannya. Aku melihat wajahnya yang sendu namun tetap berusaha tersenyum padaku. Pada lelaki bodoh yang telah menyakiti hatinya.

“Aku pergi dulu. Kembalilah padanya aku tidak ingin dia bersedih. Jangan pernah menatapku dengan tatapan seperti ini lagi, karena aku sudah tidak berhak. Lupakan aku, oppa. Dan aku akan mendoakan kalian berdua.”

“Jae ah~ apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu seorang. Tidak akan ada yang lain.”

Dia menggeleng. “Tidak boleh! Kau harus belajar melupakan aku dan belajar mencintainya. Aku yakin appa-mu sudah memilih gadis yang terbaik untuk dijadikan pendampingmu, oppa. Good bye…”

“Good bye…”

Aku tersenyum padanya. Lalu ia pun berbalik dan berjalan meninggalkanku. Aku tahu ia pasti menangis lagi.

Your words of goodbye, I laugh and don’t mind and seemed happy
I look behind your path, don’t cry, I didn’t pray
I do not leave looking at your flowing tears
I do not send them

Dropping rain is quite alright, but your tears don’t seem alright
It’s alright but I can’t catch you leaving, erase all the memory of your sick mind
As time flows only you knew you’d forgotten, you lived, it seemed so, with no mind
Today, you look exactly like dropping rain from behind, walking alone

I’m going to try to catch her tears
But I do not deserve to laugh
Dropping rain is quite alright, but your tears don’t seem alright
It’s alright but I can’t catch you leaving, erase all the memory of your sick mind

Dropping rain
Please don’t go, please don’t leave
And tell your heart
Your heart cries as rain drops, your heart cries as tears drop

I love you, I can’t catch you leaving, and the clear gain of your life is the sorrow
I’m afraid it will rain

(Kim Tae Woo – Droping Rain)


– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s