[Series] Star Of Love – Part 2

Haaalooooooo… Ini dia yang ditunggu-tunggu. Hahaha gaya bener!

Whoah!!! Pas buat part 2 ini feel’nya bener2 dapet. Sampe mau nangis. Hehehe. Tapi berhubung ngetiknya lagi-lagi di kantor jadi ya dibatalkan air matanya.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Star of Love

Author : neys

CAST

Lee Dong Hae (Super Junior)

Choi Si Won (Super Junior)

Park Jae Mi

Cho Yeon Hae


_Author PoV_

“Mwo???” Jae Mi melepaskan tangan Dong Hae lalu menggenggamnya. Matanya pun berubah merah, menahan air mata.

“Apa yang kau katakan, oppa? Kau mau meninggalkanku?”

“Aku tidak mau Jae Mi, tapi aku harus meninggalkanmu. Aku tidak mungkin membatalkannya.”

“Hah? Apa sih maksudmu?”

Dong Hae tersenyum lalu mengacak rambut Jae Mi. “Mungkin ragaku tidak ada di sisimu. Tapi, hatiku akan selalu dekat denganmu. Hatiku tidak akan kemana-mana karena hatiku sudah ada pemiliknya.”

Jae Mi menggeleng tanda tak mengerti dengan ucapan Dong Hae.

“Aku akan melanjutkan studi ke Jepang. Kau tidak keberatan menungguku kan?”

“Mwo? Jepang? Itu artinya kau akan meninggalkanku dalam waktu yang cukup lama. Mungkin 3 tahun, 4 tahun atau lebih? Iya kan?” Jae Mi mulai mengangis.

“Jagiya, uljima. Aku tidak suka melihatmu menangis karenaku.” Ucap Dong Hae sambil mengusap air mata Jae Mi.

“Kau mau aku berpura-pura tidak sedih mendengar bahwa Lee Dong Hae, kekasihku akan pergi meninggalkanku selama bertahun-tahun, tanpa tahu apa saja yang dia lakukan. Apa saja yang ia pikirkan. Kau ingin aku berpura-pura tidak merindukannya? Berpura-pura tidak ingin memeluknya di saat aku sedang membutuhkannya? Kau ingin aku seperti itu?” Jae Mi pun semakin terisak.

Dong Hae memeluk kekasihnya erat-erat. “Mian, jagi. Jeongmal mianhaeyo. Aku mengerti perasaanmu. Tapi percayalah, aku akan selalu menjadi Lee Dong Hae-mu seorang. Dan kau akan selalu menjadi Park Jae Mi-ku seorang yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kau tidak akan melepasku sendiri untuk pergi ke Jepang bukan? Kau masih mau mengikatku bukan?”

Jae Mi melepas pelukan Dong Hae. “Tentu saja. Siapa yang rela melepasmu tanpa status apapun dariku? Aku akan menunggumu dan kau harus kembali padaku. Awas kalau kau berani meninggalkanku.”

“Ara… Ara… Mana mungkin aku sanggup berpisah darimu lama-lama.”

“Janji?” Jae Mi mengangkat jari kelingkingnya dan Dong Hae pun mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Jae Mi.

“Janji.”

“Kapan kau akan berangkat?”

“Satu minggu lagi. Jadi selama satu minggu ini aku mau kau menemaniku. Araji?”

“Ye, araji.”

“Ayo kita pulang!” Jae Mi menggeleng.

“Kau pulang duluan saja, oppa. Aku masih mau di sini.”

“Mwo? Ini sudah malam, jagi. Kau harus pulang. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan.”

“Aniyo, oppa. Aku bisa jaga diri. Sudah sana pulanglah. Aku masih ingin sendiri di sini. Lagipula, rumahku tak jauh dari sini. Satu jam lagi telpon aku, aku pasti sudah ada di rumah.”

“Kau yakin?” Jae Mi mengangguk sambil tersenyum.

Dong Hae pun meninggalkan Jae Mi dengan berat hati. Melajukan mobilnya kerumahnya.

_PoV end_


_Choi Si Won PoV_

Aku melangkahkan kakiku ke taman kota. Entah kenapa usai mengantar Yeon Hae pulang aku ingin menikmati suasana taman di malam hari.

Dan ternyata aku menemukan Jae Mi sedang duduk sendirian di salah satu kursi. Wajahnya nampak muram. Ia hanya diam termenung. Aku menghampirinya.

“Non gwaenchana?”

Ia menoleh padaku. Menatapku sekilas lalu menggeleng pelan.

“Aku baik-baik saja, sunbae.”

“Sedang apa sendirian di sini malam-malam begini? Mana Dong Hae?”

“Aku menyuruhnya pulang duluan. Aku masih ingin di sini.”

“Kau ada masalah dengan Hae?”

“Aniyo, aku dan oppa baik-baik saja.”

“Jinjja? Lalu kenapa tatapan matamu sendu begitu?”

Kali ini Jae Mi hanya menggeleng sambil tersenyum. Kami terdiam selama beberapa menit sampai akhirnya aku mendengar suara tangisnya. Ia menangis. Ada apa dengannya? Aku menoleh padanya. Tiba-tiba ia mengatakan sesuatu padaku.

“Boleh aku pinjam pundakmu?”

Aku sedikit kaget dengan perkataannya. Tapi kemudian aku langsung berbalik dan membiarkan ia menangis di pundakku. Aku bisa merasakan kesedihan yang amat dalam lewat tangisnya yang juga menyayat hatiku ini.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, pundakku sekarang sudah basah karena air matanya. Ia menangis cukup lama. Entah apa yang terjadi padanya. Dia bilang hubungannya dengan Hae baik-baik saja. Lalu apa?

“Gomawo, sunbae.”

Ucapannya membuyarkan pemikiran-pemikiranku. Aku manatapnya. Aku ingin sekali memeluknya sekedar untuk membuatnya lebih tenang dan aman. Tapi kukubur dalam-dalam niatku itu.

“Kau mau pulang? Kuantar ya?”

Dia mengangguk dan tersenyum. Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju mobilku. Entah keberanian darimana aku menarik tangannya dan merengkuhnya ke dalam pelukanku. Aku merasakan bahwa dia sedikit kaget dengan apa yang kulakukan. Dia tidak membalas pelukanku.

“Jae Mi ah~ Mungkin aku tidak tahu apa yang membuatmu sedih, tapi percayalah aku ada dan akan selalu mendukungmu.”

Dia melepas pelukanku. “Gomawo, sunbae. Kita pulang saja yuk! Aku tidak mau menanggung resiko kemungkinan oppa melihat kita berdua berpelukan di taman malam-malam begini.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Kajja! Aku sudah mengantuk, sunbae.”

Aku tidak yakin ini tidak ada hubungannya dengan Dong Hae. Aku melajukan rumahku ke rumah Dong Hae secepat mungkin.

*Lee Dong Hae’s home*

Dong Hae sudah menungguku di depan pintu karena di jalan tadi aku sudah memberitahunya bahwa aku akan datang.

Ia mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu.

“Ada apa? Kelihatannya kau sangat panik, Won.”

“Apa yang kau perbuat pada Jae Mi?”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku yakin kau sudah menyakiti hatinya kan? Jika tidak, mana mungkin ia menangis tersedu-sedu di pundak pria lain yang bukan kekasihnya?”

“Dia menangis di pundak pria lain? Apa yang kau katakan? Siapa?”

“Kau jelas tahu siapa yang aku maksud.”

“Kau?”

Aku mengangguk.

“Katakan padaku, apa saja yang ia katakan?”

“Tidak ada. Ia hanya menangis saja. Oh ya, mian tadi aku sempat memeluknya.”

“Mwo? Kau berani memeluk kekasihku? Sahabat macam apa kau ini?”

“Harusnya aku yang bertanya, KEKASIH MACAM APA KAU, YANG MEMBIARKAN KEKASIHNYA MENANGIS DI PUNDAK PRIA LAIN, BAHKAN MENINGGALKANNYA SENDIRIAN DI TAMAN?” emosiku meluap-luap.

“KENAPA KAU BERTERIAK PADAKU, CHOI SI WON???”

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku berusahan menahan emosiku dan menenangkan diriku.

“Mian, tadi aku berteriak padamu.”

“Oke, gwaenchana. Aku juga minta maaf.”

“Jadi, apa yang terjadi pada Jae Mi?”

“Entahlah, tapi kurasa ini ada kaitannya dengan rencana kuliahku di Jepang.”

“Mwo? Kau akan melanjutkan kuliah di Jepang? Meninggalkan Jae Mi di Seoul?”

“Aku harus bagaimana, Won? Semua rencana pendidikanku sudah diatur appa-ku sejak dulu. Kalau aku boleh meminta aku juga ingin di sini menemani Jae Mi.”

“Aku tahu kalau kau menyukai Jae Mi. Salah! Kau mencintai Jae Mi. jadi, bisakah kau membantuku menjaganya?”

“Aku tidak bisa. Bukan aku yang pantas menjaganya, tapi kau!”

“Tapi kau kan tahu aku tidak bisa selalu menemaninya. Aku tidak ingin dia merasa kesepian.”

“Kalau begitu jangan pergi.”

“Wonnie ah~ Kau sendiri tahu seperti apa appa-ku. Aku tidak mungkin menolak ini.”

“Jadi kalau appa-mu meminta kau untuk melepas Jae Mi, kau juga akan melakukannya?”

“Mungkin.”

BUK!

Aku memukul pipinya. Aku tidak tahan mendengar jawabannya. Bagaimana mungkin ia menjawab pertanyaanku semudah itu? Aku benci menatap wajahnya.

“Kalau kau tidak benar-benar mencintai Jae Mi seharusnya kau melepasnya sekarang juga. Dan aku akan menggantikanmu dengan senang hati. Aku pulang dulu.”

Aku keluar dari rumahnya lalu melajukan mobilku. Aku tidak ingin pulang. Aku malah melajukan mobilku ke rumah Jae Mi. aku tahu ini sudah sangat malam, tapi aku harus ke sana.

KRIEK…

Pintu terbuka setelah aku menelepon Jae Mi dan memintanya untuk keluar. Dia sudah memakai piyama-nya.

“Ada apa, sunbae?”

“Temani aku jalan-jalan ya?”

“Mwo? Malam-malam begini? Mau kemana?”

“Entahlah, hanya jalan-jalan sekitar rumahmu saja. Bagaimana? Mau ya?” ujarku sambil memasang wajah memelas.

“Hahaha… Wajahmu lucu sekali. Baiklah. Kajja!”

“Kau mau melanjutkan kuliah kemana, sunbae?”

“Hm… Busan.”

“Wah, kenapa tidak di Seoul saja? Itu artinya kau juga akan meninggalkanku.” Ia mengerucutkan bibirnya.

“Aish! Kau ini manja sekali! hahaha.” Ujarku sambil mengacak rambutnya.

“Oh ya, tapi mungkin selama aku kuliah aku tidak akan menghubungimu.”

“Mwo? Waeyo?”

“Tak apa-apa. Aku hanya ingin konsentrasi kuliah.”

“Hah? Apa hubungannya? Dasar sunbae aneh! Kau yakin tidak akan merindukanku? Merindukan hoobae-mu yang baik, rendah hati dan murah senyum ini? Hahaha.”

“Ya! Pede sekali kau ini! Hahaha.”

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Sepulangnya Si Won dari rumahku. Aku memutuskan untuk ke rumah Jae Mi. Betapa kagetnya aku melihat mobil Si Won di sana. Aku mengurungkan niatku. Aku melihatnya sedang di depan pintu bersama Jae Mi.

Jujur! Aku tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan Jae Mi. Tapi ini memang salahku. Kalau saja aku punya keberanian dan cukup kesempatan untuk menentang appa. Aku tidak mau karena kepergianku ke Jepang akan membuatku kehilangan Jae Mi nantinya. Aku tidak mau!

Kuputuskan untuk pulang ke rumah. Aku masuk ke kamarku. Dan aku menangis. Ya, aku menangis. Karena aku tahu, sebenarnya aku akan di Jepang bukan untuk 4 tahun saja. Lebih. Dan juga bukan hanya untuk kuliah saja. Aku tahu. Tapi aku tidak mau melepaskan Jae Mi. Dia terlalu berharga bagiku. Aku hanya menginginkan dia seorang. Seandainya saja appa mengerti.

The next day at Jae Mi’s home

“Oppa! Kau kenapa murung begitu?”

“Gwaenchana. Kau mau kemana hari ini?”

“Hm… Aku ingin ke rumahmu. Aku ingin ngobrol dengan Yeon Hae.”

“Kau tidak ingin ngobrol denganku?”

“Ya! Itu kan rumahmu, oppa. Nanti kau juga pasti ikutan ngobrol.”

“Ara… Ara… Kajja!” aku menggenggam jemarinya. Entah apa aku sanggup berpisah darinya selama aku di Jepang nanti.

>>>

“Yeon Hae!!!”

“Jae Mi!!! Kau datang? Kau jarang bermain ke sini. Aha! Aku tahu, pasti oppa tidak mau mengajakmu kemari karena nantinya kau akan asik sendiri denganku.”

“Tepat sekali!”

“Ya! Kalian kan selalu bertemu di sekolah!”

“Itu tidak dihitung, oppa!” ucap Jae Mi dan Yeon Hae bersamaan.

“Ya! Tidak perlu terlalu kompak begitu bukan?”

“Sudah ya, oppa? Aku mau mengajak Jae Mi ke kamarku dulu.”

“Ya! Kalian!”

_PoV end_


_Cho Yeon Hae PoV_

Sepertinya hubungan Jae Mi dan oppa baik-baik saja. Atau oppa belum mengatakannya pada Jae Mi?

“Jae Mi ah~. Kau tahu oppa akan kuliah di Jepang.”

Ia mengangguk sambil mencari-cari buku yang ia bisa baca di lemariku.

“Lalu?”

Ia menoleh padaku. “Lalu apanya? Dia akan kuliah dan aku akan menunggunya kembali.”

Jadi Jae Mi belum tahu mengenai hal yang lain yang akan oppa lakukan di Jepang selain kuliah? Jae Mi ah~ kuharap kau tidak akn terluka saat kau mengetahui ini.

Oppa, kenapa dia tidak menceritakannya pada Jae Mi? Tidakkah ia menyadari bahwa hati Jae Mi akan lebih tersakiti nantinya. Apa yang harus aku lakukan? Menceritakannya kah? Tidak! Oppa sendiri yang harus mengatakannya pada Jae Mi.

“Jae Mi ah~. Kau yakin sanggup menunggu oppa selama bertahun-tahun?”

“Yeon ah~. Kau meragukanku? Kau sendiri kan tahu seperti apa aku?”

Ya, aku tahu. Jae Mi adalah tipe gadis yang sangat setia. Setia kawan juga setia terhadap orang yang ia cintai. Tapi justru karena itu aku semakin takut dia terluka.

“Ye, aku tahu nona besar! Lalu apa yang akan kau lakukan selama oppa tidak di korea?”

“Ya seperti biasa. Aku akan mulai membiasakan diriku untuk melakukan sendiri hal yang biasa kulakukan berdua dengannya. Di luar itu aku akan tetap menjadi Jae Mi seperti biasa.”

“Jae Mi ah~.” Aku memeluknya. Aku tidak sanggup membayangkan dia tersakiti. Ia pasti akan sangat sakit jika mengetahui yang sebenarnya.

“Kau kenapa, Yeon?”

Aku melepas pelukanku. Lalu tersenyum padanya.

“Oh ya, jadi bagaimana? Sampai saat ini kau selalu enggan menceritakan tentang pria yang berhasil mencuri hatimu selama kau di Jepang. Ayo ceritakan padaku!”

“Jae Mi ah~. Jangan bahas dia. Aku malas mengingat-ingat dia.”

“Waeyo?”

“Karena dia tidak pernah mengingatku.”

“Mwo?”

“Sudahlah, dia tidak mencintaiku. Jadi, lupakan jika kau ingin aku membahasnya denganmu.”

“Ayolah, setidaknya beritahu aku namanya.”

“Tidak.”

“Yeon…” dia memasang wajah memelasnya.

“Baiklah. Park Jung Soo. Itu namanya.”

Aku berjalan keluar kamar. Dia mengejarku sambil berteriak.

“Park Jung Soo??? Ternyata pria korea juga. Suatu saat kau akan mendapatkan hatinya, Yeon!”

“Berhenti membicarakannya, Jae!”

“Tidak mau ah!”

“Oppa, uruslah kekasihmu. Dia terus menggangguku dengan teriakan-teriakannya.”

“Ya! Kan tadi kau sendiri yang mengajakku ke kamarmu, Yeon? Teganya kau melemparku pada oppa? Hahaha.”

“Berisik! Hahaha.”

“Kajja, jagi. Kita ke taman belakang saja.”

“Hahaha. Ara… Nanti kita sambung lagi ya, Yeon?”

“Tidak akan.”

Aku masih mendengar tawa-nya yang perlahan-lahan menghilang. Aku menahan tangisku. Ya, setiap aku mengingatnya selalu membuatku ingin menangis.

Hari sudah sore. Oppa sedang mengantar Jae Mi pulang. Sepulang dari mengantar Jae Mi aku akan bertanya pada oppa. Aku mendengar suara mobil dari garasi. Tak lama ia muncul.

“Oppa, kenapa kau belum mengatakannya pada Jae Mi?”

“Tentang?”

“Oppa, kau jelas tahu apa yang kumaksud.”

“Ye, aku tahu. Aku pasti mengatakannya. Tapi tidak sekarang.”

“Lalu kapan? Beberapa hari lagi kau akan ke Jepang. Kau akan membuatnya terus menunggumu yang bahkan mungkin tidak akan pernah kembali padanya. Kau akan…”

“Aku akan kembali, Yeon! Aku pasti kembali untuknya.”

“Jangan mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak yakin, oppa.”

“Apa maksudmu? Aku mencintai Jae Mi. aku tidak mau kehilangan dia.”

“Oh. Kau tidak mau kehilangan dia? Kau egois sekali, oppa? Kalau kau tidak mengatakannya segera, dia akan sangat sakit di saat ia mengetahui bahwa ia kehilanganmu. Bukannya kau yang kehilangan dia. Karena kaulah yang pergi meninggalkan dia tanpa pernah berkata apa-apa. Ingat itu!”

Aku pergi meninggalkan oppa yang mematung. Aku tahu dia juga tertekan. Tapi aku tidak ingin melihat mereka berdua lebih sakit nantinya.

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

*Incheon International Airport *

“Kenapa Si Won sunbae tidak ikut mengantarmu, oppa?”

“Dia kan sudah berangkat ke Busan kemarin.”

“Jinjja? Kenapa dia tidak memberitahuku ya? Sayang sekali kita tidak mengantarnya.”

“Aku dan Yeon Hae mengantarnya kok.”

“Wah, kalian curang! Kenapa tidak mengajakku?”

“Sudahlah, kenapa malah membahas Si Won?”

“Mian, oppa.”

Hari ini aku akan berangkat ke Jepang. Kuliah sekaligus mengikuti semua rencana appa tentangku di Jepang. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain menyanggupinya. Tapi sanggupkah aku berpisah dari Jae Mi? Sanggupkah aku melepasnya? Dan sanggupkah aku jika suatu saat aku harus melihatnya bersama dengan pria lain? Oh Tuhan!

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s