[One Shot Series] Left In Autumn (Part 1/3)

Annyeong!!! Ini FF pertamaku. Jadi, maaf ya kalo misal ceritanya kurang menarik ato geje. Hehehe. Masih dalam tahap belajar.

Kritik n saran sangat dibutuhkan.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Left in Autumn

Author : neys

CAST

Jung Ga Eul

Kim Jae Joong (DBSK / JYJ)

Lee Mi Hwang

Kim Eun Hye

Jung Yun Ho (DBSK)


*Paran Senior High School*


_Jung Ga Eul PoV_

Pagi ini aku bergegas menuju sekolah. Hari ini adalah hari yang sangat penting untuknya. Untuk Jae Joong sunbae. Dan aku ingin ada di sana untuk menyaksikan semua peristiwa bersejarah dalam hidupnya. Hari ini hari kelulusannya. Dan ia berhasil menjadi lulusan terbaik.

“Sunbae!” panggilku, saat aku melihatnya tak jauh dari gerbang.

“Oh.. Hi Ga eul!” balasnya sambil tersenyum. Senyum yang membuatku tak bisa menatap yang lain lagi. Senyum yang seolah mampu meruntuhkan hatiku. Aku teringat sesuatu.

“Ga eul!” panggil seseorang sambil menepung pundakku sekilas. Aku menoleh.

“Kau rupanya, oppa…”

“Ya! Kenapa kau tampak tidak senang melihatku? Lagipula kenapa kau ada di sini?” Oppa memberondongku dengan sejuta pertanyaanya itu.

“Aniyo, oppa! Aku bukannya tidak senang, aku hanya bersikap sebiasa mungkin. Dan untuk pertanyaanmu yang lain, aku…” belum sempat aku menyelesaikan jawabanku, Jae joong sunbae memotong, “Aku pergi dulu ya, Ga Eul, Yun Ho! Ada seseorang yang harus aku temui.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, begitu pula oppa. Detik selanjutnya aku hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh dariku. Aku tahu siapa yang akan dia temui. Ya, aku benar-benar yakin bahwa dia yang akan sunbae temui.

_PoV end_


_Kim Jae Joong PoV_

Entah darimana keberanian ini datang. Hari ini aku berencana untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Dia, gadis yang mampu membuatku jatuh cinta untuk pertama kali. Dia, yang selalu tersenyum padaku. Dia, yang selalu menemaniku tiga tahun belakangan.

“Kim Jae Joong?” ujar seseorang. Aku menoleh ke arah suara itu berasal.

“Ne, noona? Kau benar-benar datang? Gomawo.” Ucapku padanya sambil tersenyum.

“Tentu saja. Kau kan hoobae kesayanganku. Gwaenchana, jae joong ah~” Ucapnya sambil tersenyum. Sangat manis.

“Noona, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

“Katakanlah.”

“Aku…”

_PoV end_


_ Lee Mi Hwang PoV_

“Aku…”

Aku menanti kata-kata selanjutnya. Tapi tanpa perlu dia meneruskanpun aku tahu apa yang hendak ia katakan padaku. Aku tahu dia menyukaiku. Dan menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Aku tahu.

“Aku menyukaimu, noona.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu?”

“Ye.”

“Lalu? Apa jawabanmu?”

Aku sengaja menunda jawabanku. Aku suka sekali melihat ekspresinya. Dia tampak makin tampan.

Dia, pria yang 3 tahun lebih muda dariku. Dia, yang selalu datang di setiap acaraku. Dia, yang selalu mendukungku. Dia, hoobae yang sangat kusayangi.

“Noona…”

“Wae?” aku tertawa geli. “Harus kujawab sekarang?” tanyaku menggodanya.

“Noona… Aku benar-benar sedang menantikan jawabanmu.”

“Keure. Kau menginginkan jawaban yang bagaimana? Hm… Begini saja, aku ingin kau kembali mengungkapkan ini di podium nanti, saat kau membacakan pidato kelulusanmu. Bersedia?”

“Mwo???”

“Tidak bersedia?”

“Aniyo! Aku pasti akan melakukannya untukmu, noona.”

Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku. Benar-benar tampan.

_PoV end_


_Kim Eun Hye PoV_

“Ahhh. dimana sih Ga Eul?”

Aku berlari-lari sambil celingukan di lapangan.

“Eun Hye!” seseorang memanggilku. Aku menoleh.

“Ga Eul!!!” seruku dan langsung memeluknya.

“Aku mencarimu dari tadi tahu! Eh, mana oppa?”

“Sedang mencari Mi Hwang onnie.”

“Mwo? Mi Hwang onnie? Untuk apa? Kenapa tidak menemanimu saja? Dasar oppa! Aku masih tidak mengerti, kenapa oppa begitu antusias ketika ia bertemu dengan Mi Hwang onnie. Huh!”

Ga eul tersenyum. Senyumnya nampak dipaksakan. Dan aku tidak suka melihatnya karena aku tahu hatinya sedang menahan rasa sakit. Sakit karena oppaku.

“Kau baik-baik saja, Ga eul?”

“Ne, gwaenchana. Masuk ke dalam, yuk!” ujar Ga eul. Ia menarik tanganku.

Aku ingin sekali Ga eul lah yang menjadi kekasih oppaku. Ga eul dan Jae joong oppa. Ga eul, satu-satunya sahabat terbaikku. Ga eul, sahabat yang tidak pernah mengecewakan dan selalu ada untukku. Kenapa oppa malah menyukai onnie itu sih? Batinku dalam hati.

_PoV end_


#Flasback

_Author PoV_

Seorang gadis sedang bercermin di dalam kamarnya. Ia memakai kemeja putih bergaris-garis dan celana jeans hitam. Nampak sebuah bandana menghiasi rambut panjangnya. Manis.

Selesai bercermin ia mengambil tas lalu menyelempangkannya di bahu kiri, lalu beranjak ke rak sepatu di dekat pintu, mengambil flat shoes berwarna putih lalu mengenakannya.

Ia berjalan keluar dengan langkah kaki yang sangat lincah, sesekali bergumam.

*Kim Jae joong house*

Tok tok tok. Ia mengetuk pintu rumah tersebut.

Kriek.

Pintu terbuka. Sesosok pria menyambut di baliknya.

“Annyeong, sunbae!”

“Annyeong! Masuklah.”

“Ne, gomabseumnida.”

“Tidak perlu terlalu formal begitu padaku, Ga eul!” ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk. “Ada apa mencariku?”

“Em… Hanya ingin menanyakan sesuatu tentang seleksi masuk klub kesenian.”

“Oh. Apa yang ingin kau ketahui dariku? Aku akan bantu kau semampuku.”

Hari itu tepat seminggu semenjak hari pertama masuk SMA Paran. Ga Eul memutuskan untuk pergi ke rumah Jae Joong untuk menanyakan masalah seleksi masuk klub kesenian yang dikenal sangat susah. Ia tahu Jae Joong adalah salah satu pengurus di klub itu, maka ia memberanikan diri untuk ke sana.

Sebenarnya bukan hanya itu yang menjadi satu-satunya alasan ia ke sana. Ia merindukan sunbae-nya itu. Ya! Ga Eul jatuh hati pada Jae Joong sejak ia pertama kali melihatnya di sekolah, di ruang kesenian.

Ia melihat Jae joong yang sedang memetik gitar sambil bernyanyi.

Meski masih banyak pengurus klub yang lain, nyatanya ia memutuskan untuk ke rumah Jae joong. Semata-mata untuk bisa lebih dekat dengan pujaan hatinya itu.

“OPPA!!!!!!!!!!” teriak seorang gadis dari dalam rumahnya. Tak lama muncul seorang gadis dan langsung bertanya pada Jae joong. “Mana eomma?”

“Aish! Kenapa kau berteriak-teriak sih? Aku sedang ada tamu tahu! Eomma sedang pergi berbelanja.”

Gadis itu menoleh. Memperhatikan Ga eul.

_PoV end_


_Kim Eun Hye PoV_

Siapa gadis ini? Kekasih oppa kah? Tapi sepertinya aku belum pernah melihatnya.

Ia tidak terlalu cantik. Badannya mungil dan kulitnya putih bersih. Ia tersenyum padaku. Wah, senyumnya manis sekali. Tapi kemudian ia nampak salah tingkah karena aku terus melihatnya dari tadi tanpa mengucapkan apa-apa.

Akhirnya dia buka suara terlebih dahulu.

“Joneun Ga eul imnida.” Ia memperkenalkan diri kepadaku.

“Joneun Eun hye imnida. Aku adiknya dia.” Ujarku sambil menunjuk oppaku.

“Nuguya? Kekasihmu? Kelihatannya dia seumuran denganku. Hoobae baru yang kau kencani?” tanyaku pada oppa.

Pletak!

Oppa menjitak kepalaku.

“Babo! Dia memang hoobaeku, tapi dia bukan kekasihku! Kau pikir aku lelaki seperti apa, memacari junior yang baru kukenal selama seminggu? Dasar!” jelas oppa kepadaku.

“Siapa tahu!”

Aku kembali menoleh pada Ga eul. Tersenyum padanya. “Kalau begitu lanjutkan saja ngobrolnya. Aku masuk dulu. Mannaseo banggawoyo. Kalau oppa macam-macam, panggil saja aku.”

“Ne, gomawo Eun hye.”

Akupun masuk ke dalam kamarku.

#Flashback end

_PoV end_


_Jung Ga Eul PoV_

Aku sedang berada di aula bersama Eun hye, sahabat sekaligus adik dari Jaejoong sunbae. Dia semakin dekat denganku ketika aku bertemu lagi dengannya keesokan harinya, setelah aku kerumahnya hari itu. Setiap istirahat ke kantin bersama.

Dan akhirnya, dia jadi sahabat pertamaku dan satu-satunya di sekolah ini.

Sekarang kami hendak naik ke kelas 3. itu artinya Jae joong sunbae akan memasuki perguruan tinggi.

Rasanya tidak rela untuk melepasnya. 2 tahun ini aku selalu melihatnya di sekolah. Selalu melihatnya di ruang klub kesenian. Melihat senyumnya. Mendengar ceritanya, cerita tentang bagaimana perasaannya kepada Mi Hwang onnie. Gadis yang 3 tahun lebih tua darinya dan sangat ia cintai. Hatiku sakit waktu ia bercerita pertama kali tentangnya.

Melihat bagaimana ia tersenyum malu. Mukanya yang memerah setiap onnie datang untuk berkunjung ke klub.

Mi Hwang onnie.

Dia alumnus SMA Paran juga.

Ketua klub kesenian waktu ia kelas 2.

Sekarang Ia aktif di kampusnya. Ia sering mewakili kampusnya ketika ada kegiatan musik. Ya, dia pandai bermain piano.

Aku mengetahui semua ini dari Jae joong sunbae.

Ia menceritakan semua yang ia tahu tentang onnie. Sebenarnya aku tidak ingin mendengarkan itu semua. Karena hatiku sakit setiap ia menceritakan itu semua dengan perasaan meluap-luap.

“Ga Eul! Kau kenapa???” Tanya Eun Hye, mengagetkanku.

Aku tersentak, “Ani, ada apa?” aku malah balik bertanya.

“Kau sedih ya karena oppa lulus dan akan meninggalkan sekolah ini? Jangan bersedih, Ga Eul. Kau kan masih bisa sering-sering main ke rumah. Aku akan buat kau bisa ngobrol dengannya di rumah. Ga Eul, jangan bersedih ya?”

“Ne, Hye. Aku tidak bersedih kok. Lagipula untuk apa kau melakukan itu semua. Aku kan hanya hoobae dari oppamu. Kau tidak perlu melakukan itu semua untukku, Hye.”

“Ga Eul… Mianhae… Jeongmal minhaeyo…”

“Kenapa minta maaf? Aku…” ucapanku terpotong karena aku mendengar kepala sekolah memanggil sunbae untuk maju ke depan. Eun Hye akhirnya menoleh juga.

Sunbae memulai pidatonya. “Annyeong! Joneun Kim Jae Joong imnida, perwakilan siswa-siswi kelas 3. Pagi ini saya… blablabla. Ia selesai dengan pidatonya.

Aku menunduk sampai aku mendengar ia kembali berbicara.

“Pagi ini, melalui podium ini aku ingin menyampaikan isi hatiku.”

DEG!

Apa yang akan dia katakan? Perasaanku tidak enak.

“Aku… Menyukai seorang gadis. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia, gadis yang telah mengisi relung-relung hatiku. Memenuhi pikiranku dengan namanya. Memenuhi hatiku dengan senyuman manisnya. Memenuhi ingatanku dengan kenangan-kenangan kita. Dia. Hanya dia yang aku inginkan untuk menjadi kekasihku. Mi Hwang noona.”

Tes!

Air mataku jatuh tepat di detik ia mengucapkan nama onnie.

Aku tidak sanggup membendung air mataku lagi. Aku ingin beranjak pergi tapi kutahan. Aku ingin melihat semua ini sampai akhir. Mengetahui jawaban Mi Hwang onnie.

“Ga Eul, kita pergi saja dari tempat ini.” Ajak Eun Hye.

Aku hanya menggeleng. Dia menurut.

“Noona, aku hanya ingin kau yang menjadi gadisku. memiliki senyummu yang sangat memikat. Berada di sisimu, sebagai kekasihku. Maukah kau?” ucap sunbae sambil menatap onnie yang berdiri di belakang, dekat pintu aula.

Sekarang semua yang ada di aula ini menatap onnie dan sunbae bergantian. Menantikan jawaban onnie.

Onnie berjalan menuju podium. Berdiri di sebelah sunbae.

“Jae Joong ah~. Gomawo kau sudah menyukaiku. Jeongmal gomawoyo. Sekarang aku akan memberikan jawabanku.”

Semua menanti sambil harap-harap cemas. Aku meremas-remas tanganku sendiri. Semoga aku mampu bertahan. Eun Hye hanya bisa menatapku, sepertinya ia kasihan padaku.

“Aku baik-baik saja, Hye. Kau tidak perlu menatapku seolah-olah aku sudah tidak punya kekuatan untuk bertahan.” Ujarku sambil tersenyum. Ia diam saja, tapi ekspresinya tidak berubah.

“Aku… Bersedia menjadi satu-satunya gadis yang ada di hatimu, Jaejoong!”

Selepas onnie menerima sunbae menjadi kekasihnya, aku melihat dengan air mata yang menggenang di mataku, sunbae memeluk onnie. Ia tampak sangat bahagia.

Aku membalik badanku, berjalan gontai kearah pintu. Aku merasakan langkah Eun Hye dibelakangku, mengikutiku keluar dari aula ini.

Begitu aku menutup pintu aula. Aku sudah tidak mampu bertahan. Aku menangis sambil duduk di lantai. Aku menelungkupkan wajahku di atas lutut. Eun Hye memelukku.

_PoV end_


_Kim Jae Joong PoV_

Dia menerimaku! Aku bahagia sekali! Gadis yang sekarang ada di pelukanku adalah milikku. Kekasih pertamaku. Cinta pertamaku.

Aku melepas pelukanku.

“Gomawo, Mi Hwang… Jeongmal gomawoyo.”

Dia tertawa, lalu menarikku turun.

Kami berjalan keluar. Aku kaget, saat aku keluar aula aku melihat Ga Eul menangis dan adikku  sedang memeluknya.

“Kau kenapa, Ga Eul?”

Aku bisa melihat ia tersentak mendengar suaraku. Adikku menoleh. “Dia tidak apa-apa. Sudah pergi sana!” ujar adikku ketus.

Mwo? Ada apa dengan dia? Aku kan bertanya baik-baik pada Ga Eul. Dasar adik tidak sopan.

“Baiklah, oppa pergi dulu. Kau jangan pulang malam-malam! Araji?”

“Ne, araji!”

Aku meninggalkan mereka berdua sambil menggandeng tangan Mi Hwang. Tapi pemandangan tadi mengganggu pikiranku. Ada apa dengan Ga Eul? Bagaimanapun juga aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.

“Waeyo?” Mi Hwang sepertinya menangkap signal bahwa aku sedang memikirkan sesuatu.

“Ani. Oh ya, tidak apa-apa kan aku memanggilmu Mi Hwang saja? Tanpa memakai noona di belakangnya?”

“Ye, jagi! Tentu saja.” Ia tersenyum lagi.

_PoV end_


_Author PoV_

Setengah jam berlalu. Orang-orang masih di dalam aula karena acara kelulusan belum selesai. Jae Joong dan Mi Hwang sedang ngobrol berdua di kantin, menikmati kebersamaan.

Dan Ga Eul masih menangis di pelukan Eun Hye.

“Ga Eul ah~. Berhentilah menangis. Jebal. Aku tidak ingin melihatmu terus bersedih.”

Ga Eul mengangkat kepalanya, menatap sahabatnya itu. Matanya masih basah. Hidungnya merah. Ia sesenggukan.

“Ne, Eun Hye. Mian, aku telah merepotkanmu. Aku tidak apa-apa kok.” Ga Eul tersenyum. Tapi senyumnya tidak melegakan hati. Semua orang yang melihat pasti akan langsung mengetahui bahwa Ga eul sedang bersedih.

“Ayo pulang!” ajak Eun Hye. Ga Eul mengangguk pelan.

Ga eul mengusap air matanya. Membenahi rambutnya. Menghela napas panjang. Lalu beranjak berdiri.

“Kajja!” seru Ga Eul. Lalu menggandeng Eun Hye.

*Kantin Sekolah*

Jae joong sedang duduk berhadapan dengan Mi Hwang di salah satu meja. Dari tempat yang mereka pilih, mereka bisa melihat ruang aula. Dan itu artinya Ga Eul bisa melihat mereka berdua, begitu juga sebaliknya.

Ga Eul berjalan lurus-lurus tanpa menoleh ke kantin sama sekali. Sepertinya ia sengaja karena ia tahu bahwa mereka berdua pasti menuju kantin. Tapi tidak dengan Jae Joong. Saat Ga Eul dan Eun Hye berjalan menuju gerbang, ia mengamati mereka berdua.

“Sebenarnya ada apa sih dengan Ga Eul? Kenapa ia tampak sedih sekali?” tanya Jae Joong dengan suara pelan. Pertanyaan yang ia tujukan pada dirinya sendiri.

“Sepertinya kau dekat sekali dengan Ga Eul? Sejak kau melihatnya menangis tadi, aku merasa ada bagian dari dirimu yang ikut merasakan kesedihannya.” Ucap Mi Hwang.

Jae Joong menoleh. “Entahlah. Mungkin iya aku ikut bersedih, tidak tahu kenapa. Tapi yang pasti aku sangat menyayanginya.”

Mi Hwang tersenyum. “Bahagianya memiliki namja chingu sepertimu. Sangat penyayang.”

Jae Joong mengalihkan pandangannya pada Mi Hwang, melepas pandangannya dari Ga Eul.

“Ne, maka dari itu. Jaga aku baik-baik dari para gadis-gadis yang sangat menginginkan aku.” Ucap Jae Joong lalu tertawa.

“Ya! Berbanggalah sana atas ketampanan dan kebaikan hatimu itu! Dasar! Kau itu yang seharusnya baik-baik menjagaku. Kau tidak tahu? Di kampus ada banyak namja yang mengejar-ngejarku.” Mi Hwang pun tertawa.

“Hahaha… Sebentar lagi kita akan berada di kampus yang sama. Aku pasti mengawasimu.”

Mereka terus ngobrol dan ngobrol. Sampai akhirnya acara kelulusan pun selesai.

_PoV end_


_Jung Ga Eul PoV_

*Eun Hye house*

Kriek. Pintu terbuka. Aku dan Eun Hye masuk ke dalam. Lalu Eun Hye mengajakku ke kamarnya, memberiku sapu tangan, lalu duduk di sampingku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Semua harapanku sudah lenyap. Penantianku selama 2 tahun harus kuakhiri sampai di sini. Semua percuma. Aku tidak mungkin memilikinya.

Ia sudah menjadi milik orang lain. Dalam diam aku kembali menangis. Eun Hye kembali memelukku.

“Mianhae Ga Eul… Jeongmal mianhaeyo…”

Aku melepas pelukannya.

“Kenapa minta maaf? Kau tidak bersalah, Hye. Tidak ada yang bersalah. Cuma aku saja yang bodoh, berharap akan hal yang tidak mungkin. Aku tidak berpikir aku ini siapa. Aku hanya gadis biasa yang tidak istimewa seperti Mi Hwang onnie. Aku tidak anggun sepertinya. Aku tidak mahir memainkan piano sepertinya. Tubuhku tidak setinggi dirinya. Tutur kataku tidak selembut dirinya. Aku jelas-jelas tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan onnie. Benar-benar tidak bisa dibandingkan.” Ucapku sambil terisak. Emosiku meluap-luap.

“Kau memang berbeda dengan dia. Tapi percayalah, kaupun istimewa. Setiap yang kau punya itu istimewa. Kau memiliki hati yang besar. Mungkin kau bukan sosok gadis yang sempurna tapi kau sangat spesial. Kau, gadis yang selalu berjuang dalam hidupmu. Berusaha menggapai impianmu. Kau tidak bisa dibandingkan dengan onnie. Itu karena kalian memang berbeda dan tidak ada yang perlu dibandingkan.” Eun Hye mulai menangis.

Aku semakin merasa bersalah. Kenapa aku membuat sahabatku menangis? Semua penjelasannya mungkin benar, tapi untuk saat ini aku tidak sanggup untuk mempercayai semua itu.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Eun Hye. “Hye, mianhae telah membuatmu menangis. Percayalah, aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Ini hanya perlu sedikit waktu. Percayalah semua akan kembali seperti sedia kala.” Aku tersenyum padanya.

Semoga ia mempercayaiku. Karena aku memang berharap untuk dapat segera melupakannya. Aku percaya ini hanyalah masalah waktu.

“Aku pulang dulu ya? Aku ingin mandi dan beristirahat.” Pamitku.

Eun Hye menahan tanganku.

“Tetaplah di sini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Ga Eul. Jebal.”

Aku tersenyum.

“Aku akan baik-baik saja. Percayalah, aku tidak akan sebodoh itu, Hye. Aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Lalu aku akan kembali seperti semula. Kembali menjadi Jung Ga Eul yang kau kenal. Jung Ga Eul yang ceria. Tenanglah, di rumah kan ada oppa. Dia pasti menjagaku. Araji?”

“Ye. Baik-baik ya?”

Aku mengangguk.

Aku berjalan keluar. Tapi sesaat kemudian pintu terbuka sesaat sebelum aku hendak membukanya.

“Sunbae?” Ucapku pelan, tersirat nada sedikit kaget dalam sapaanku. Ya, aku memang sedikit terkejut. Kenapa dia sudah pulang?

Sunbae menarikku ke dalam dekapannya.

Apa dunia sedang berhenti berputar? Kenapa dada ini rasanya sesak sekali? Aku menahan agar air mataku tidak jatuh. Tidak dalam pelukan orang yang aku cintai.

Ia melepas pelukannya. Memegang kedua pundakku.

“Kau kenapa? Apa yang terjadi sampai membuatmu menangis seperti tadi? Kau baik-baik saja kan?”

Aku menangkap ada guratan kekhawatiran dari caranya bertanya padaku. Tatapannya yang sangat hangat.

Aku tidak sanggup berada di sini lebih lama lagi.

Aku melepaskan tangannya yang berada di pundakku. Tersenyum tipis lalu membungkukkan badanku.

“Aku baik-baik saja. Aku pulang dulu, sunbae. Eun hye, sampai jumpa besok!”

_PoV end_


_Kim Jae Joong PoV_

Aku masuk ke rumah dan melihat Ga eul di depan mataku. Entah kenapa aku reflek memeluknya. Kenapa saat memeluknya aku merasa seolah-olah Ga Eul adalah seorang gadis yang sangat rapuh dan harus kujaga?

Begitu Ga Eul pulang, aku langsung menatap adikku. Tatapan meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi pada Ga Eul.

Ia malah melengos padaku.

Hei! Apa yang terjadi sih? Ada apa dengan mereka berdua?

Aku menarik tangan Eun Hye. Menatapnya lekat-lekat.

“Apa yang telah terjadi?”

“Memangnya apa? Tidak ada apa-apa. Aku tidak tahu. Kau tanyakan saja langsung pada Ga Eul.”

Ia pergi lagi. Aish! Apa aku melakukan kesalahan? Setahuku tidak.

Aigo! Dasar 2 gadis yang aneh.

Aku mengeluarkan handphone dari dalam saku celanaku. Memencet deretan nomer yang sudah sangat aku hafal.

“Yeoboseyo?” sahutnya di seberang.

“Mi Hwang!!!”

_PoV end_


_Jung Ga Eul PoV_

*Jung Ga Eul bedroom*

Aku menatap foto-foto di atas meja belajarku.

Fotoku bersama dengan Eun hye. Fotoku bersama dengan oppa. Dan terakhir, fotoku bersama dengan sunbae.

Foto itu diambil saat sekolah mengadakan pagelaran seni. Eun hye yang membantu mengambil untuk kami.

Sunbae memeluk pundakku dari samping. Aku tersenyum bahagia.

Masa-masa saat dia masih bersekolah di sekolah yang sama denganku. Aku mengambil foto itu dan menatapnya lekat-lekat.

I’m sitting here alone up in my room
And thinking about the times that we’ve been through (oh my love)
I’m looking at a picture in my hand
Trying my best to understand
I really wanna know what we did wrong
With the love that felt so strong
If only you were here tonight
I know that we could make it right

I don’t know how to live without your love
I was born to make you happy
Cuz your the only one within my heart
I was born to make you happy
Always and forever you and me
That’s the way our life should be
I don’t know how to live without your love
I was born to make you happy

I know i’ve been a fool since you’ve been gone
I’d rather give it up then carry on (oh my love)
Cuz livin in a dream of you and me
Is not the way my life should be
I don’t wanna cry a tear for you
So forgive me if i do
If only you were here tonight
I know that we could make it right

I don’t know how to live without your love
I was born to make you happy
Cuz your the only one within my heart
I was born to make you happy
Always and forever you and me
That’s the way our life should be
I don’t know how to live without your love
I was born to make you happy

I’d do anything
I’d give you my world
I’d wait forever to be your girl
Just call out my name (just call out my name)
I will be there (and i will be there)
Just to show you how much i care

I don’t know how to live without your love
I was born to make you happy
Cuz your the only one within my heart
I was born to make you happy
Always and forever you and me
That’s the way our life should be

(Britneys Spears – Born To Make You Happy)


Aku meletakkan foto itu di dalam laciku. Aku tidak ingin melihat foto itu lagi kalau akhirnya aku akan sakit setiap melihat foto itu.

Aku harus bangkit. Aku tidak boleh terus-terusan terpuruk seperti ini. Jae joong sunbae, mian untuk sikapmu tadi. Tapi setelah hari ini, aku akan kembali menjadi Jung Ga Eul yang kau kenal. Kembali menjadi Jung Ga Eul yang selalu ada untukmu.

Pasti.

Aku memutuskan untuk menelepon oppa.

“Oppa! Kau ada di mana sih? Kenapa tidak pulang-pulang? Cepat pulang! Aku mau pergi ke taman bermain. Antakan aku!!!”

“Hei! Hei! Hei! Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba ingin ke taman bermain? Aku sedang bersama teman-temanku.”

“Tidak mau tahu! Pulanglah, oppa! Jebal.”

“Ara. Ara. Aku akan segera pulang. Bersiap-siaplah.”

KLIK.

_PoV end_


_Jung Yun Ho PoV_

KLIK.

Ada apa sih, tiba-tiba ingin pergi ke taman bermain? Aneh!

“Aku pulang!”

“Oppa!” dia menghambur ke pelukanku.

Apa yang terjadi sih?

“Kau kenapa?”

“Mwo? Aku tidak apa-apa. Kajja!” ucapnya sambil menarik lenganku.

*Taman bermain*

Aku melihat dia bersemangat sekali hari ini. Tapi tidak dengan raut wajahnya. Aku tahu, ia akan seperti ini jika sedang bersedih. Selalu begini sejak kecil. Selalu menyembunyikan perasaan. Ia tidak pernah dengan rela membagi kepedihan yang ia rasakan.

Dan aku juga tahu bahwa setelah ia berhasil melampiaskan perasaannya, ia akan merasa lega dan kembali seperti sedia kala.

Cepatlah kembali, Ga Eul. Aku tahu mengapa kau seperti ini. Aku tahu ini semua karena Jae Joong.

“Oppa! Temani aku naik bianglala ya?”

“Apa aku punya pilihan jawaban untuk menolak?” jawabku sambil mengacak rambutnya.

“Kajja!”

Menjelang malam kami memutuskan untuk pulang. Kami berdua sangat lelah.

_PoV end_


-Tahun Ajaran Baru-

_Author PoV_

Hampir enam bulan Jae Joong dan Mi Hwang berpacaran. Musim panas pun  telah berganti dengan musim semi.

Daun-daun berguguran di sepanjang jalan.

Ga Eul dan Eun Hye sedang berjalan bersama-sama menuju sekolah. Begitu pula dengan Jae Joong dan Mi Hwang berjalan bersama-sama menuju kampus.

Tapi ada yang berbeda dengan gurat wajah Mi Hwang. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Hubungan mereka enam bulan ini sebenarnya tidak bisa dibilang baik-baik saja.

Mereka sering bertengkar karena hal sepele. Seperti beberapa hari yang lalu.

#Flashback

“Siapa dia?” Jae Joong bertanya dengan nada penuh curiga.

“Dia temanku, Jae. Kenapa kau selalu menanyakan hal-hal yang bahkan tidak perlu kau tanyakan? Kau selalu menanyakan siapa saja yang sedang bersamaku. Apa saja yang aku lakukan. Aku ini kekasihmu. Kenapa kau memata-matai aku seolah aku ini seorang buronan?”

“Aku tidak memata-mataimu. Aku hanya tidak menyukai kau dekat-dekat dengan pria lain selain aku. Harusnya kau mengerti itu.”

“Aku? Mengerti? Harusnya kau yang belajar mengerti bagaimana sebaiknya sebuah hubungan itu dibangun. Butuh kepercayaan.”

“Bagaimana bisa aku mempercayai semua yang kau lakukan?”

“Itu berarti kau tidak mencintaiku.” Ucap Mi Hwang tegas.

Mereka diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Mi Hwang membuka suara.

“Kau tahu. Kita sering bertengkar untuk hal-hal tidak berguna seperti ini. Bersikaplah lebih dewasa. Dulu aku sempat ragu padamu karena kau lebih muda dariku. Aku takut kau akan lebih kekanak-kanakan dari aku. Tapi aku berusaha menyangkal semua itu. Berusahan meyakinkan diriku sendiri bahwa kau adalah sosok pria dewasa yang bisa mengerti jalan pikiranku. Bisa mengimbangi pola hidupku. Tapi sepertinya aku salah.”

Jae Joong tetap diam. Mi Hwang beranjak.

“Pikirkan kata-kataku baik-baik. Apa kau sudah mengambil keputusan yang tepat untuk menjadikan aku kekasihmu. Pikirkan juga, apa kau benar-benar mencintaiku atau sekedar mengagumiku. Jujur, selama ini aku merasa saat kau bersamaku pikiran dan hatimu tidak ada bersamaku. Aku tidak tahu di mana. Mungkin hanya kau sendiri yang tahu. Aku pulang dulu.”

#Flasback end


“Jae!” panggil Mi Hwang saat mereka sudah sampai di kampus.

“Waeyo?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sekaligus meminta ijin.”

“Ijin?”

Mi Hwang mengangguk.

“Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Busan. Aku akan mewakili kampus untuk acara pertukaran kesenian kampus-kampus di sana. Aku disana selama 3 bulan.”

“3 bulan?”

“Itu hanya sebentar Jae. Kau baik-baiklah di sini ya? Aku harap hubungan kita akan baik-baik saja.”

“Apa maksudmu?”

“Aku akan ke sana dengan beberapa teman. Ada yeoja juga namja. Aku hanya takut kalau-kalau kau cemburu buta lagi.”

“Aku tidak pernah cemburu buta. Cemburuku selalu beralasan.”

“Terserah kau saja. Aku sedang malas berdebat. Aku masuk dulu. Bye.”

Seperti itulah hubungan Jae Joong dan Mi Hwang. Tidak sehangat layaknya pasangan-pasangan baru. Cenderung canggung.

Usai mendengar ijin Mi Hwang tadi. Jae Joong merasa sangat malas untuk kuliah. Ia memutuskan untuk membolos. Dan menuju sebuah kafe. Tapi ia kaget saat ia melihat Ga Eul sedang duduk sendiri di sebuah kursi. Ia menghampiri Ga Eul yang sedang memakan ice cream itu.

“Kau membolos?” mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Ga Eul menoleh. Ia nampak sedikit kaget saat tahu Jae Joong yang bertanya padanya dan sekarang sudah duduk di depannya.

Ia menggeleng pelan. “Ani, hari ini guru-guru ada rapat mendadak. Jadi murid-murid disuruh pulang. Tapi mendadak aku ingin makan ice cream makanya aku ke sini.”

Jae joong membulatkan bibirnya.

“Kau kenapa, sunbae? Wajahmu sangat tidak mengenakkan untuk dipandang. Hahaha.”

“Beraninya kau mengataiku? Hahaha. Ani, hanya ada sedikit masalah.”

“Ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantu.”

Jae Joong menghela nafas.

“Beberapa hari lagi Mi Hwang akan berangkat ke Busan dan menetap di sana selama 3 bulan.”

“Mwo? Onnie akan berada di Busan selama 3 bulan? Untuk apa?”

“Dia akan mewakili kampus untuk pertukaran kesenian antar kampus.”

“Kenapa lama sekali?”

“Entahlah. Sepertinya dia akan senang selama ada di sana. Jauh dariku yang selalu ia anggap memata-matainya.”

“Aku, yang mungkin hanya menjadi bebannya. Aku terlalu kekanak-kanakan baginya. Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka melihat dia dekat dengan pria lain. Apa aku salah?”

“Selama ini, aku menekan perasaanku. Aku ingin selalu berada di sisinya. Tapi apa? Dia sangat sibuk dengan semua kegiatan-kegiatan kampusnya itu. Dia tidak memperhatikan aku yang baru masuk kuliah. Tidak pernah menanyakan bagaimana kuliahku selama ini. Bagaimana dia bisa begitu egois padaku?”

“Orang pertama yang mendukungku untuk kuliah di sana. Orang pertama yang menanyakan bagaimana kuliahku. Orang pertama yang selalu membantuku saat aku susah. Dan bahkan orang yang selalu muncul dengan sendirinya saat aku masalah. Menjadi tempat penampungan semua cerita-ceritaku. Kenapa orang itu malah kau, Ga Eul ah~?”

Ga Eul sedikit kaget dengan kata-kata Jae Joong.

“Sunbae, non gwaenchana?”

Jae Joong memeluk Ga Eul. “Ga Eul, katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mempertahankan semua ini? Atau haruskah aku melepaskan dia? Karena aku melihat dia tertekan saat bersamaku.”

Ga Eul melepas pelukan Jae Joong perlahan.

“Sunbae, aku tidak bisa memutuskan apa-apa untukmu. Ini masalah hati. Hanya kau yang tahu bagaimana perasaanmu padanya. Kalau kau mencintai Mi Hwang onnie, kau harus membuatnya bahagia. Jangan buat dia tertekan dengan semua kecurigaan sunbae. Aku beri tahu sesuatu. Ketika seorang wanita memutuskan untuk mencintai seseorang. Ia akan berusaha menjaga cinta itu untuk tetap satu dan selamanya.”

“Jinjja? Benarkah dia tidak pernah berniat untuk mengkhianatiku?”

“Tanyakan pada hatimu, sunbae. Aku yakin kaupun tahu jawabannya.”

“Gomawo, Ga Eul. Aku merasa lega sekarang. Kau memang tahu bagaimana cara menenangkanku.” Jae Joong mengacak rambut Ga Eul.

“Berhentilah merayuku. Kau harus membayar ice cream-ku ini. Hahaha.”

“Ara… Ara… Kau tenang saja. Dasar! Oh ya, bagaimana kalau saat dia di sana aku tiba-tiba muncul untuk mengejutkannya? Pasti dia senang sekali.”

Ga Eul tidak terlalu tertarik dengan pembahasan itu. Jauh di lubuk hatinya, ia belum benar-benar bisa melupakan Jae Joong. Hanya saja, hatinya sudah bisa merelakan.

Ga Eul tersenyum. “Terserah kau saja, sunbae. Masa semua hal kau ceritakan padaku? Memang aku buku harianmu?”

Jae Joong menoleh. “Aha! Benar! Kau sudah seperti buku harianku. Semua masalahku kau tahu. Kau benar-benar seorang adik yang baik!”

_PoV end_


_Kim Jae Joong PoV_

Sudah dua bulan Mi Hwang berada di Busan. Tapi entah mengapa aku tidak merindukannya. Jujur, aku hanya merindukannya sesekali. Dan itu semakin jarang. Aku jarang meneleponnya. Bahkan mengirim pesan untukknya pun juga jarang. Sedang dia? Tidak usah ditanya. Ia hanya sekali meneleponku saat ia sampai di Busan. Ia juga jarang membalas smsku.

Dua bulan ini aku sering menghabiskan waktu bersama Ga Eul. Bahkan lebih sering dari intensitasku dulu bersama Mi Hwang. Aku nyaman sekali saat bersama dengannya. Ngobrol. Jalan-jalan. Bercanda. Sangat menyenangkan.

Tapi terkadang aku harus rela sendirian karena Eun Hye pergi bersama Ga Eul. Entah kenapa akhir-akhir ini dia senang sekali pergi ke perpustakaan. Aneh!

Hari ini aku ada janji dengan Ga Eul. Kami akan pergi menonton film. Tapi, tunggu! Kenapa aku gugup sekali? Akhir-akhir ini aku juga sering salah tingkah di depannya. Aku sering menatap wajahnya tanpa berkedip. Apa yang sedang aku lakukan? Berselingkuh? Tidak! Aku sudah menganggapnya adikku sendiri.

>>>

“Film yang sangat bagus bukan, sunbae?” tanyanya saat kami sudah duduk di dalam kafe.

“Ne, kau pandai sekali memilih film.”

“Oh ya, bukankah kau berniat mengunjungi Mi Hwang onnie ke Busan? Kapan kau akan berangkat?” ucapnya sambil melihat-lihat buku menu.

“Kau mau pesan apa, sunbae? Kau masih tidak suka minum Coca Cola?”

“Hahaha… Kau masih ingat kalau aku tdak suka Coca Cola?”

“Pasti aku ingat, sunbae. Kita minum milkshake saja ya?”

Aku mengangguk. Dia memanggil pelayan lalu menyebutkan pesanan kami.

“Jadi bagaimana?”

“Mwo? Apanya yang bagaimana?”

“Kapan kau akan berangkat?”

“Berangkat kemana?”

“Sunbae! Kau ini! Ke busan. Kalau kau tidak segera berangkat tidak ada waktu untuk memberinya kejutan.”

“Hm… Nanti aku pikirkan lagi. Kau mau ikut denganku?”

“MWO? Kau gila? Bagaimana bisa kau memberi kejutan pada kekasihmu dengan membawa gadis lain? Bisa-bisa onnie membunuhku. Hahaha…”

Aku pun tertawa mendengar ucapannya.

Aigo! Bagaimana bisa aku melupakan rencanaku untuk memberi Mi Hwang kejutan?

Ya, aku harus ke Busan. Aku harus meyakinkan diriku bahwa aku memang mencintai Mi Hwang.

-The next day at Busan-

Aku berdiri di depan sebuah rumah. Kemarin aku sudah mencari tahu tentang lokasi Mi Hwang ke kampus.

Aku mengetok pintu itu pelan.

KRIEK…

Mi Hwang muncul kemudian. Ia sedikit kaget melihatku.

“Jae?”

Aku tersenyum padanya. “ Kau tidak merindukanku? Keluar yuk!”

“Tunggulah sebentar, aku akan meminta ijin terlebih dahulu.”

>>>

“Apa kau sudah sadar?” Tanya Mi Hwang.

“Maksudmu?”

Jujur aku tidak mengerti apa maksud Mi Hwang. Pertanyaannya aneh sekali. Aku? Sadar? Apa sih?

“Sudah menyadari perasaanmu yang sebenarnya padaku?”

“Perasaanku yang sebenarnya?”

“Jadi kau belum juga sadar? Haruskah aku yang menjelaskan padamu?”

Aku diam saja. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.

“Kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya mengagumiku, Jae.”

“Mwo? Apa yang kau katakan? Aku mencintaimu, Hwang!”

Dia menggeleng.

“Orang yang kau cintai bukan aku, Jae. Kau mencintai orang lain. Gadis itu selalu memenuhi pikiranmu selama ini. Saat kau jauh darinya kau memikirkannya. Ketika gadis itu bersedih, kau seolah ikut merasakannya. Kau bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu. Bahkan ketika kau sedang bersamaku.”

Aku masih terdiam. Kenapa sepertinya aku tahu siapa gadis yang ia maksud.

“Aku akui, aku mencintaimu. Aku bahagia sekali saat kau mengatakan kau mencintaiku. Tapi kemudian aku sadar. Kau tidak benar-benar mencintaiku. Kau hanya mengagumiku. Semua perlakuanmu saat kita bersama sudah cukup menjelaskan. Tapi sayang, gadis yang sebenarnya kau cintai itu bukan aku. Hanya Ga Eul yang kau cintai.”

Ga Eul? Benarkah aku mencintainya? Aku akui, aku merasa nyaman saat bersamanya. Saat bersamanya aku benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku bisa menceritakan semua yang aku rasakan padanya. Dan sepertinya dia sangat mengerti aku.

“Sudah sadar bukan?”

Aku menatap Mi Hwang. Dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya.

“Mian, Mi Hwang ah~. Aku… Aku…”

“Tidak perlu minta maaf. Hati memang tidak bisa berbohong. Aku tidak menyalahkanmu karena kau salah mengartikan perasaanmu padaku. Sudah, pulanglah. Temui Ga Eul dan katakan padanya bahwa kau sangat mencintainya.”

“Gomawo, noona.”

“Hahaha… Kau kembali memanggilku noona? Baguslah! Adik pintar!”

“Tapi aku tidak ingin langsung kembali ke Seoul. Aku masih merindukan noonaku ini. Hahaha.”

_PoV end_


_Jung Ga Eul PoV_

Sudah 3 hari Jae Joong sunbae di Busan. Jujur, aku masih mencintainya. Tapi sekarang aku sudah bisa merelakan bahwa gadis yang dia cintai itu bukan aku.

Setiap hari sunbae meneleponku. Menanyakan bagaimana hariku. Jujur, aku senang dengan perhatiannya. Tapi apa ini pantas? Dia sudah memiliki kekasih. Andwae! Ini tidak benar.

I’m gonna give you my love I’m gonna give you my heart
forever be with you love always be with you
Onuse ne mame gunyoga durowa boryoso
amuron junbido haji mothan che anjolbujol mothesso


Handphone-ku berdering. Ya, Jae Joong meneleponku. Tapi aku memutuskan untuk menolak panggilan tersebut. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya. Aku tidak ingin kembali memberi harapan pada diriku sendiri.

Tiba-tiba handphoneku bergetar. 1 pesan masuk.

From : My Jae Sunbae

Ga Eul ah~ kenapa tidak angkat teleponku? Non gwaenchana? ^_^


Aku kembali memutuskan untuk tidak membalas pesannya. Dia sedang bersama Mi Hwang onnie, tidak sepatutnya aku merusaknya.

_PoV end_


_Kim Jae Joong PoV_

Kenapa dia menolak teleponku? Dia juga tidak membalas pesanku. Aku mondar-mandir gelisah di ruang tamu tempat Mi Hwang onnie tinggal.

“Apa yang membuatmu begitu gelisah?”

Aku menoleh cepat lalu duduk di depannya.

“Ga Eul. Ia tidak mengangkat teleponku. Juga tidak membalas pesanku.”

“Pulanglah. Jangan menunda-nunda lagi. Jangan biarkan gadis menunggu terlalu lama. Jangan sampai saat kau berniat kembali, dia sudah memutuskan untuk berhenti lalu berbalik.”

“Maksudmu?”

“Babo! Aku yakin Ga Eul juga mencintaimu. Bahkan sejak lama. Memang dasar kau saja yang tidak peka pada perasaan wanita.”

“Jinjja?”

Mi Hwang mengangguk yakin.

Akhirnya hari itu juga aku memutuskan untuk kembali ke Seoul. Rencanaku besok pagi aku akan mengungkapkan semua padanya. Aku tidak ingin salah lagi. Aku juga tidak ingin telambat. Sudah cukup lama aku membuatnya menunggu seorang namja yang bodoh sepertiku.

_PoV end_


_Lee Mi Hwang PoV_

Hari ini aku kembali ke Seoul. Sudah 3 bulan meninggalkan Seoul dan sekarang aku akan pulang. Aku berjalan sambil mencari Jae Joong dan Ga Eul, mereka berjanji untuk menjemputku hari ini. Tapi dimana mereka?

BRUK!

Aku bertabrakan dengan seseorang.

“Mian. Tadi aku berjalan tanpa melihat ke depan.”

“Aku juga minta maaf. Harusnya tadi aku juga tidak melihat ke depan.”

Aku merasa tidak asing dengan suaranya. Suara ini. Aku menoleh ke arahnya. Sepertinya dia juga merasa mengenalku, dia pun sedang menatapku.

“KAU???” pekikku dan dia bersamaan.

_PoV end_


_Author PoV_

#Flasback

Pagi-pagi benar Jae Joong beranjak dari tidurnya. Mempersiapkan diri untuk menemui Ga Eul. Tapi saat ia sampai dirumah Ga Eul ia tidak menemukan Ga Eul. Yun Ho bilang Ga Eul baru saja pergi untuk berjalan-jalan.

Ga Eul sedang berjalan-jalan. Di samping kiri dan kanannya berjejer pohon-pohon yang daunnya berguguran. Daun-daun berwarna merah itu berguguran ke badannya. Ga Eul sangat menyukai musim gugur. Selain karena arti namanya yang juga berarti musim gugur, ia merasa musim gugur adalah musim yang sangat indah. Ia berpikir, berjalan berdua bersama orang yang dikasihi pasti akan terasa sangat romantis.

Jae Joong mencari Ga Eul kemana-mana sampai akhirnya ia melihat Ga Eul sedang berjalan sendirian. Ia berlari ke arah Ga Eul.

“Ga Eul ah~” panggil Jae Joong. Gadis itu menoleh.

“Sunbae? Kenapa kau ada di sini?”

“Karena memang seharusnya aku ada di sini. Di sisimu.”

“Mwo? Apa yang kau katakan, sunbae?”

“Berhentilah memanggilku sunbae. Panggil aku oppa.”

“Oppa? Waeyo?”

Jae Joong menggeleng sambil tersenyum. Lalu merengkuh Ga Eul dalam pelukannya. Ia memeluk Ga Eul sangat erat.

“Saranghae, Ga Eul ah~”

Ga Eul kaget dengan perkataan Jae Joong. Lalu melepaskan diri dari pelukan Jae Joong.

“Apa yang baru saja kau katakan, sunbae? Kau ini kekasih Mi Hwang onnie. Bagaimana mungkin kau menyatakan cinta pada gadis lain?”

Jae Joong menggeleng. “Aku sudah bilang, panggil aku oppa. Dan, kau salah. Aku bukan kekasih Mi Hwang noona.”

“Mwo? Kau putus dengan onnie?”

Jae Joong mengangguk. “Saranghae, Ga Eul ah~”

Ga eul tetap diam. Ia tidak mengerti. Ia bingung.

“Ga Eul ah~ biar aku jelaskan padamu. Aku memang mencintai seorang gadis. Tapi ternyata aku salah. Yang aku cintai bukanlah Mi Hwang noona, tapi kau. Kau yang selalu ada untukku dan yang selalu mengerti aku. Kau yang selalu membuatku lupa waktu saat bersamamu. Kau yang selalu membuatku nyaman dan tidak ingin berpisah denganmu. Itu kau, Ga Eul.”

“Aku tidak tahu harus berkata apa. Kau? Mencintaiku?”

“Percayalah padaku, Ga Eul ah~ Aku juga tahu bahwa kau mencintaiku. Sekarang kau tidak perlu ragu padaku. Aku serius. Aku ingin selalu disisimu. Menjadi satu-satunya pria yang kau cintai. Menjadi pria yang menemanimu berjalan saat musim gugur. Kau tahu, hatiku sudah ada di genggamanmu. Hatiku sudah tertinggal padamu.”

“Your heart? Left in me?”

“Yes! My heart left in you, Ga Eul. Saranghae Ga Eul ah~” Jae Joong kembali memeluk Ga Eul.

“Na ddo saranghae, oppa.”

Jae Joong melepas pelukannya lalu mencium kening Ga Eul.

See how the gently fallen snow melts in my hand
Disappearing until nothing is left like it was never there
Doesn’t it seem like the most important things are the most fragile
We can’t hold onto them, they just drift quietly away

In a distant, faraway corner of the universe
The two of us met by chance
I want to call it a miracle, this feeling,
And I want you alone to know

But I’m no good at saying what I really want to say
Wandering, searching…that’s how I’ve lived
Now, I think I’ve found my one and only light
But if I try to pursue it, it will only run away

The future is undecided

While stopping along the way over and over again,
We’ve shared smiles and tears alike
You and I have made this journey
And that’s the only truth of which I am certain

When rain falls, I’ll be the umbrella that covers you
When the wind blows, I’ll be the wall that shields you
And however deep the dark of night,
Tomorrow will surely come

The flowers that bloom in spring (Love, Love, Always)
And the sandy beaches of summer
An autumn evening (Love, Love, Forever)
And a sunny spot in winter
However many seasons come and go,
Our prayer will transcend even time and space

Far away (In a corner of the universe)
Far away (I think about you)
I want to call it a miracle, this feeling,
And I want you alone to know

While stopping along the way over and over again,
We share smiles and tears alike (more and more)
Because this journey the two of us have made (this journey)
Won’t just fade away

I want to tell only you
That tomorrow will surely come

(DBSK – Asuwa Kurukara)

…FIN…

See you on the part 2…

Gimanaaaaaaa? Panjang banget deh kyaknya… Hahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s